IHSG Terjun 37 Poin ke 6.562, Harga Minyak dan Suku Bunga Global Ancam Portofolio Investor Banua

Penulis: Zulham Nasution  •  Rabu, 02 September 2026 | 14:38:32 WIB
IHSG terkoreksi 37,34 poin ke level 6.562,60 pada perdagangan Rabu pagi seiring pelemahan bursa Asia.

BANJARMASIN — Pelemahan indeks saham kawasan Asia pagi ini ikut menggerus Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks yang sempat dibuka menguat berbalik turun 0,57 persen atau 37,34 poin ke posisi 6.562,60 pada pukul 09.50 WIB. Kenaikan harga minyak mentah dan lonjakan imbal hasil obligasi Pemerintah AS menjadi pemicu utama aksi jual di pasar domestik.

BANJARMASIN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau, tetapi tak berhasil bertahan lama. Pada perdagangan Rabu pagi pukul 09.50 WIB, indeks komposit justru tergelincir 37,34 poin atau 0,57 persen ke level 6.562,60. Koreksi ini menempatkan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa utama Asia yang kompak melemah.

Indeks saham unggulan LQ45 juga ikut tertekan. Kelompok 45 saham berkapitalisasi besar itu turun 4,61 poin atau 0,70 persen ke posisi 649,80.

Harga Minyak Naik 5 Persen, Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Rekor

Biang kerok pelemahan kali ini bukan berasal dari dinamika domestik, melainkan tekanan eksternal yang menguat sejak Selasa (1/9). Harga minyak mentah global ditutup melonjak hampir 5 persen seiring meningkatnya ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin ke level 4,792 persen. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak November 2023. Kekhawatiran terhadap inflasi yang masih membandel dan beban utang fiskal membuat investor ramai-ramai melepas obligasi.

Tekanan serupa terjadi di pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3 persen untuk pertama kalinya sejak Agustus 1996. Imbal hasil obligasi Jerman dan Inggris juga berada di level tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Wall Street dan Bursa Asia Kompak Terjun Bebas

Kondisi pasar keuangan global memang sedang tidak bersahabat. Bursa Eropa ditutup melemah pada Selasa (1/9), diikuti Wall Street yang juga terkoreksi mendalam. Indeks S&P 500 turun 0,71 persen ke 7.631,47, Nasdaq Composite melemah 1,03 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,79 persen.

Pagi ini, bursa Asia memperpanjang koreksi. Indeks Nikkei Jepang ambles 2,65 persen ke 64.456,00, Hang Seng Hong Kong turun 1,36 persen, dan Kospi Korea Selatan melemah hingga 2,9 persen. Shanghai Composite ikut melemah 0,88 persen.

Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Capai 68 Persen

Data ekonomi AS turut memicu kehati-hatian pelaku pasar. Laporan ketenagakerjaan menunjukkan pasar tenaga kerja mulai melambat, meski secara keseluruhan masih tangguh. Jumlah lowongan kerja (Job Openings) pada Juli 2026 tercatat 7,27 juta, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 7,33 juta.

Meski melambat, data tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menghentikan sikap hawkish bank sentral AS. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 diperkirakan mencapai 68 persen. Kenaikan suku bunga acuan berpotensi mengalihkan aliran dana investor dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, ke instrumen berbasis dolar AS.

Inflasi Domestik Naik Jadi 3,19 Persen, PMI Manufaktur Kontraksi

Dari dalam negeri, tekanan juga mulai terlihat pada data fundamental. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan, meningkat dari posisi 2,88 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan harga makanan dan transportasi menjadi pendorong utama, dengan inflasi inti berada di level 2,96 persen.

Indeks manufaktur Indonesia juga kembali terkontraksi. PMI manufaktur Agustus 2026 berada di angka 49,8, turun dari 50,2 pada Juli. Meski berada di bawah ambang batas 50 yang mengindikasikan kontraksi, capaian ini masih lebih baik dibandingkan posisi April dan Juni 2026.

Di tengah berbagai tekanan, ada kabar positif. Neraca perdagangan Juli 2026 mencatat surplus 0,13 miliar dolar AS setelah dua bulan berturut-turut mengalami defisit.

Investor Banua Perlu Cermati Level 6.635

Bagi investor di Kalimantan Selatan yang aktif bermain di pasar modal, pergerakan IHSG kali ini perlu dicermati. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengingatkan adanya level psikologis yang akan menentukan arah indeks selanjutnya.

"Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.635, maka berpeluang akan menutup gap di 6.705. Jika tidak, diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran 6.535-6.635," ujarnya dalam kajian di Jakarta, Rabu.

Level 6.535 menjadi support terdekat yang patut diawasi. Jika tembus, koreksi lebih dalam berpeluang terjadi. Sebaliknya, jika IHSG mampu bertahan di atas 6.635, peluang rebound menuju 6.705 masih terbuka lebar.

Sementara itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada 2027. Untuk mencapai sasaran tersebut, pertumbuhan investasi perlu dipercepat hingga 7 persen. Target ini menjadi arahan utama kebijakan ekonomi dan fiskal dalam penyusunan RAPBN 2027, dengan investasi sektor swasta didorong menjadi motor utama. Danantara disebut bakal berkontribusi terhadap investasi di sektor strategis dan hilirisasi.

Reporter: Zulham Nasution
Sumber: kalsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top