Karhutla Banjarbaru: Pemprov Kalsel Bangun Infrastruktur Air Permanen di Guntung Damar, Liang Anggang, dan Pekayuan, Targetkan 144 Unit Biofloc

Penulis: Zulham Nasution  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:28:32 WIB
Gubernur Kalsel H. Muhidin meninjau Posko Pantau Pekayuan di Liang Anggang, Banjarbaru, Rabu (26/8/2026).

BANJARBARU — Tiga kawasan di Kota Banjarbaru, yakni Guntung Damar, Hutan Lindung Liang Anggang, dan Pekayuan Landasan Ulin, kini menjadi prioritas penanganan karhutla dengan pendekatan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Gubernur Kalsel H. Muhidin bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq dan Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan meninjau langsung Posko Pantau Pekayuan di Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Rabu (26/8/2026) sore.

Muhidin menyebut keterbatasan air sebagai kendala utama di lapangan. Ia menegaskan persoalan ini harus segera dicarikan solusi agar operasi pemadaman tidak lagi bergantung pada cuaca.

"Kita mengalami kekurangan air di sini. Karena itu, bagaimana kita menyikapi dan mengatasi persoalan air ini harus segera dibahas dan ditindaklanjuti," kata Muhidin di sela peninjauan.

Strategi Perendaman di Guntung Damar

Untuk kawasan Guntung Damar, pemerintah menerapkan strategi perendaman dengan memanfaatkan air dari sistem Irigasi Riam Kanan. Namun, keberadaan sejumlah sungai terbuka membuat air belum bisa dimanfaatkan maksimal.

Pemerintah kemudian menutup aliran tersebut dengan meningkatkan tabat atau dinding penahan air hingga sekitar satu meter. Perbedaan tinggi muka air antara bendungan dan jalan raya di kawasan itu diperkirakan mencapai satu meter.

Jika proses penutupan rampung, zona utama ditargetkan terendam dalam satu hingga dua hari. Penanganan kemudian dilanjutkan ke area samping menggunakan pompa portable.

Dukungan 80 Unit Pompa dari Kementerian

Dukungan peralatan datang dari dua kementerian. Kementerian Pertahanan menyediakan 50 unit pompa portable, sementara Kementerian Pertanian menyiapkan 30 unit pompa. Pemerintah juga memperkuat blocking menggunakan excavator long arm.

"Kita harapkan dalam waktu dua sampai tiga hari area tersebut dapat terendam sehingga api dapat kita fokuskan pada daerah sekitar dan zona utama," ungkap Hanif.

Jaringan Titik Air di Pekayuan

Kawasan Pekayuan memiliki tantangan lebih besar. Luas areanya mencapai sekitar 900 hektare, dan sekitar 500 hektare di antaranya disebut mengalami kebakaran berulang.

Keterbatasan air menjadi persoalan utama. Pemerintah menyiapkan sistem berbasis jaringan titik air agar distribusi bisa menjangkau lokasi kebakaran secara efektif.

Sebanyak enam unit biofloc portable telah disiapkan. Setiap unit memiliki kapasitas sekitar 12.000 liter dan bisa dipindahkan mendekati lokasi yang membutuhkan pasokan air. Air diisi dari sumber di pinggir jalan, lalu didistribusikan secara estafet hingga mendekati titik api.

Target 144 Unit Biofloc dan Sumber Air Tanah

Ke depan, jumlah biofloc ditargetkan mencapai sekitar 144 unit dengan pola penempatan berjarak 250 x 250 meter. "Yang sudah siap hari ini ada enam unit biofloc. Kita siapkan agar keenam unit tersebut siap digunakan. Setiap kolam memiliki kapasitas 12.000 liter," terang Hanif.

Selain biofloc, pemerintah melakukan survei geolistrik untuk mencari sumber air permanen. Dari survei awal, ditemukan sumber air pada kedalaman sekitar 40 meter dengan debit yang dinilai cukup besar.

Hanif menegaskan operasi modifikasi cuaca (OMC) belum bisa diandalkan karena kondisi awan belum memungkinkan. Operasi darat menjadi strategi utama menghadapi musim kemarau panjang.

Masyarakat diminta aktif melaporkan jika menemukan asap atau titik api. Laporan sedini mungkin diperlukan agar petugas bisa melakukan penanganan sebelum api meluas. Muhidin menegaskan target penanganan bukan hanya memastikan api padam pada hari itu, tetapi membangun sistem air, peralatan, personel, dan pola pencegahan yang membuat kebakaran lebih sulit berulang pada musim kemarau berikutnya.

Reporter: Zulham Nasution
Sumber: habarkalimantan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top