KALIMANTAN SELATAN — Tekanan biaya produksi akibat krisis semikonduktor diprediksi akan mengubah peta persaingan industri ponsel global dalam dua tahun ke depan. Dalam laporan terbarunya, firma riset pasar Counterpoint Research menyebut Samsung Electronics sebagai pemain paling siap bertahan, bahkan berpotensi merebut kembali posisi puncak pangsa pasar pada 2026.
Keunggulan utama Samsung terletak pada kemampuannya memproduksi komponen internal sendiri, mulai dari chip memori hingga panel layar. Integrasi vertikal ini membuat perusahaan asal Korea Selatan itu tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga pasar komponen global.
"Kembalinya Samsung ke posisi teratas dipengaruhi oleh kemampuan (mereka menyediakan) komponen internalnya (sendiri), portofolio yang luas, dan hubungan yang mapan dengan operator dan pengecer," ujar Yang Wang, analis utama Counterpoint, dilansir Bloomberg.
Selain itu, jaringan distribusi Samsung yang sudah terbangun lama di berbagai negara memberikan bantalan tambahan. Hubungan erat dengan operator seluler dan pengecer ritel dinilai mampu menjaga volume penjualan di tengah lesunya permintaan global.
Kondisi berbeda dialami produsen ponsel asal China. Counterpoint memperkirakan pengiriman global merek China akan turun hingga 34 persen, jauh lebih dalam dibandingkan rata-rata industri. Penyebab utamanya adalah lemahnya permintaan dari segmen pasar yang sensitif terhadap harga, yang selama ini menjadi basis penjualan utama mereka.
Tekanan ini sudah memicu konsolidasi industri. OnePlus, misalnya, dikabarkan menghentikan peluncuran produk terbaru di pasar Amerika Utara dan Eropa. Sementara itu, Xiaomi, vivo, dan HONOR disebut sedang menata ulang portofolio mereka dengan memfokuskan diri pada model segmen premium.
Langkah tersebut diambil untuk menutup ongkos produksi komponen yang kian meroket. Produsen tidak punya banyak pilihan selain menggeser fokus ke produk dengan margin lebih tebal.
Kelangkaan chip memori dan komponen semikonduktor lainnya tidak lepas dari pergeseran prioritas perusahaan semikonduktor dunia. Kapasitas produksi kini lebih banyak dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan data center berbasis kecerdasan buatan (AI) yang permintaannya melonjak drastis.
Akibatnya, pasokan untuk industri elektronik konsumen menjadi terbatas dan harga komponen terus meningkat. Produsen smartphone pun terpaksa meneruskan kenaikan biaya ini kepada konsumen melalui penyesuaian harga perangkat.
Dampak paling terasa ada pada ponsel kelas entry-level hingga menengah. Padahal, segmen ini selama ini menjadi penopang terbesar volume penjualan global.
Counterpoint memperkirakan kondisi sulit ini belum akan berakhir dalam waktu dekat. Kelangkaan chip memori diprediksi masih berlanjut hingga 2027.
Untuk tahun 2026, pengiriman smartphone global diperkirakan turun sekitar 14 persen. Apple, bersama Samsung, disebut-sebut masih akan tahan terhadap tekanan harga komponen berkat skala ekonomi dan rantai pasok yang kuat. Sementara Huawei Technologies Co. dari China diprediksi masih mampu mempertahankan pertumbuhan pasar smartphone-nya.
Bagi konsumen, situasi ini berarti harga ponsel baru, khususnya di kelas menengah ke bawah, berpotensi terus mengalami kenaikan dalam dua tahun ke depan. Keputusan membeli perangkat kini perlu mempertimbangkan aspek ketahanan dan dukungan pembaruan software jangka panjang.