PAM Bandarmasih menurunkan kapasitas produksi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 karena kadar garam air baku di Intake Sungai Bilu, Banjarmasin, menembus 1.233 PPM per liter. Kondisi darurat ini dipicu kemarau panjang yang memicu intrusi air laut, memaksa perusahaan melakukan pencampuran air baku agar layanan tetap berjalan.
BANJARMASIN — Ancaman gangguan pasokan air bersih kembali menghantui warga Banjarmasin. Intrusi air laut yang masuk ke Intake Sungai Bilu membuat kadar garam air baku melonjak hingga 1.233 PPM per liter, jauh di atas ambang batas normal untuk pengolahan air minum.
Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, menegaskan situasi ini masih berstatus darurat. Perusahaan terpaksa mengurangi pengoperasian pompa di IPA 1 menjadi hanya satu unit sebagai langkah antisipasi.
Zulbadi menjelaskan, angka 1.233 PPM tersebut tidak konstan. Kadar garam di Sungai Bilu berubah-ubah mengikuti dinamika pasang surut air laut, yang membuat kondisi di titik intake (PIN) 1 dan PIN 2 bergantian terpengaruh.
“Kalau sebelumnya sampai dua ribuan, saat ini turun jadi seribuan. Permasalahannya karena bervariatif, kadang PIN 1 dan kadang PIN 2,” ujarnya, Selasa (13/8/2024).
Berdasarkan pemantauan, kadar garam mulai meningkat sejak pukul 03.00 WITA saat kondisi Sungai Bilu mulai surut. Untuk menjaga kualitas air baku, PAM Bandarmasih menerapkan strategi pencampuran atau mix air dari Sungai Bilu dengan air di IPA 1 guna menetralisir konsentrasi garam yang tinggi.
Menghadapi kondisi yang belum pasti kapan berakhir ini, PAM Bandarmasih meminta pelanggan tidak menganggap situasi saat ini aman. Masyarakat diminta mulai mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan langkah mandiri.
“Pertama tentunya bijaklah dalam penggunaan air. Yang kedua, usahakan memiliki penampungan air di rumah masing-masing, baik dalam bentuk tandon maupun penampungan air lainnya,” pungkas Zulbadi.
Langkah ini dinilai penting mengingat kemarau yang masih berlanjut terus memberikan tekanan terhadap ketersediaan air baku di Banjarmasin. Pihaknya akan terus memantau perkembangan kadar garam secara berkala untuk menentukan langkah operasional selanjutnya.