400.982 Investor Muda Dominasi Pasar Modal Kalsel, KSEI Perkuat Edukasi dan Perlindungan di Banjarmasin

Penulis: Benny Surbakti  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 10:13:31 WIB
Pemaparan materi edukasi pasar modal oleh narasumber KSEI kepada peserta di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

BANJARMASIN — Jumlah investor pasar modal di Kalimantan Selatan mencapai 400.982 orang per 30 Juni 2026, menempatkan provinsi ini di peringkat ke-16 secara nasional dari 38 provinsi. Angka tersebut didominasi kelompok usia muda, dengan 82,15 persen investor berusia di bawah 40 tahun.

Mayoritas Investor Berusia di Bawah 30 Tahun dan Karyawan Swasta

Kepala Unit Administrasi Produk Investasi KSEI, Soli Deo Gloria, mengungkapkan bahwa investor di Kalsel didominasi oleh kelompok usia kurang dari 30 tahun dan 31–40 tahun. “Hal ini sejalan dengan pertumbuhan investor muda di pasar modal Indonesia yang cukup signifikan,” ujarnya.

Dari sisi pekerjaan, sebanyak 53,67 persen investor berasal dari kalangan karyawan, baik swasta, aparatur sipil negara, guru, TNI, Polri, maupun pensiunan. Kota Banjarmasin menjadi daerah dengan jumlah investor terbanyak, yakni 92.698 investor atau sekitar 23 persen dari total investor di provinsi tersebut.

Empat Program Edukasi Digelar Sekaligus di Banjarmasin

Rangkaian kegiatan yang digelar meliputi media gathering, pertemuan pengurus Galeri Investasi se-Kalsel, pelatihan bagi perusahaan efek dan agen penjual efek reksa dana, serta edukasi langsung di Universitas Lambung Mangkurat dan STIE Pancasetia Banjarmasin. Program ini merupakan sinergi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organizations (SRO), yakni BEI, KPEI, dan KSEI.

Secara nasional, jumlah investor pasar modal Indonesia hingga akhir Juni 2026 mencapai 28,96 juta investor, meningkat 42,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini mencakup investor saham, surat utang, reksa dana, dan surat berharga negara.

Infrastruktur Digital C-BEST Kelola Aset Rp7.495 Triliun

Dalam kesempatan tersebut, KSEI memaparkan penguatan infrastruktur digital melalui sistem The Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST). Hingga Juni 2026, sistem ini mencatat total aset senilai Rp7.495 triliun dengan 3.851 jenis efek yang terdaftar.

KSEI juga mengembangkan sistem S-INVEST untuk pengelolaan administrasi reksa dana dan TAPERA yang telah mengelola Asset Under Management (AUM) sebesar Rp983 triliun dengan 2.496 produk investasi. Layanan digital seperti Single Investor Identification (SID), AKSes.KSEI untuk pemantauan portofolio secara daring, serta eASY.KSEI untuk Rapat Umum Pemegang Saham elektronik turut diperkenalkan.

KPEI Jamin Setiap Transaksi Aman dan Efisien

Kepala Unit Pengembangan Pasar KPEI, Doni Irawan, menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah investor harus diimbangi dengan sistem pengelolaan risiko yang kuat. “KPEI hadir untuk memastikan setiap transaksi yang dilakukan investor memperoleh kepastian penyelesaian,” katanya.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, nilai transaksi ekuitas harian di BEI berkisar antara Rp18,6 triliun hingga Rp35,1 triliun. Melalui mekanisme kliring dan netting, nilai penyelesaian transaksi dapat ditekan menjadi Rp5,9 triliun hingga Rp10 triliun per hari dengan tingkat efisiensi mencapai 62–68 persen. Total agunan yang ditempatkan anggota kliring di KPEI mencapai Rp90,34 triliun, dengan Dana Jaminan sebesar Rp10,28 triliun dan Cadangan Jaminan Rp220 miliar.

Dana Perlindungan Investor Capai Rp407 Miliar

Kepala Unit Komunikasi dan Informatika Indonesia SIPF, Zulrasydi Amin, menyampaikan bahwa hingga Juni 2026 Dana Perlindungan Pemodal (DPP) yang dikelola telah mencapai Rp407,49 miliar. Dana tersebut memberikan perlindungan terhadap aset investor sebagai lapisan keamanan tambahan dalam bertransaksi di pasar modal.

Reporter: Benny Surbakti
Sumber: habardigital.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top