49 Titik Panas Terdeteksi di Tanah Bumbu Sejak Januari, BPBD Kerahkan Drone Awasi Lahan Gambut dan Lahan Tidur

Penulis: Yuda Pratama  •  Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:57:01 WIB
BPBD Tanah Bumbu mengerahkan drone untuk memantau 49 titik panas sejak Januari 2024.

BATULICIN — Sebanyak 49 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kabupaten Tanah Bumbu dalam kurun waktu enam bulan pertama tahun ini. Data yang dihimpun dari aplikasi SiPongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu menjadi dasar bagi BPBD setempat untuk menyusun ulang peta kerawanan karhutla.

Prioritas Pengawasan: Gambut di Kusan Hilir dan Lahan Tidur di Simpang Empat

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tanah Bumbu, Muhammad Riswan, mengatakan peta mitigasi terbaru memprioritaskan pengawasan di kawasan lahan gambut di Kecamatan Kusan Hilir dan Kusan Tengah. Dua wilayah ini dinilai paling rentan karena karakteristik tanah yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan jika api sudah membesar.

Selain itu, pemantauan juga difokuskan pada lahan tidur di Kecamatan Simpang Empat dan Batulicin. Wilayah rawan lainnya yang masuk daftar pantau adalah Kecamatan Satui, Angsana, dan Sungai Loban.

Drone Jadi Andalan Pantau Wilayah Sulit Dijangkau

Untuk memperkuat deteksi dini, BPBD mengerahkan pesawat tanpa awak (drone) guna memantau titik-titik yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Teknologi ini dinilai efektif mempercepat identifikasi titik api sebelum api meluas.

“Meski jumlah hotspot relatif rendah, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan karena kondisi cuaca dan karakteristik wilayah dapat memengaruhi potensi kebakaran,” ujar Riswan.

Personel dan Peralatan Pemadaman Disiagakan

BPBD juga memperkuat koordinasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), TNI, Polri, dan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa. Seluruh sarana dan prasarana pemadaman dipastikan dalam kondisi siap pakai.

Peralatan yang disiagakan meliputi kendaraan operasional, sepeda motor trail untuk menjangkau medan berat, bak penampung air portabel, serta bahan aditif pemadam api. Langkah ini diambil agar penanganan bisa dilakukan cepat apabila kebakaran benar-benar terjadi.

Riswan menambahkan, perubahan cuaca yang tidak menentu menjadi faktor risiko utama. Karena itu, pengawasan di lapangan harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat cuaca ekstrem.

Reporter: Yuda Pratama
Sumber: poroskalimantan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top