Bicara soal Kalimantan Selatan, kebanyakan orang langsung teringat sate banjar atau pasar terapung. Tapi di balik ikon-ikon itu, ada puluhan adat istiadat yang hanya hidup di kalangan tetua kampung. Saya sendiri baru menyadari betapa kayanya tradisi ini setelah beberapa kali ngobrol langsung dengan warga di Banjarmasin dan Hulu Sungai Utara. Beberapa di antaranya bahkan tidak tercatat di buku wisata manapun.
Batajak bukan sekadar mandi biasa. Ini ritual tolak bala yang dilakukan warga di sepanjang Sungai Martapura, khususnya di Kelurahan Sungai Baru, Banjarmasin Tengah. Biasanya digelar pada bulan Safar, mereka percaya air sungai yang mengalir deras bisa membawa pergi nasib buruk.
Uniknya, peserta harus memakai kain putih tanpa motif dan membaca doa khusus yang diwariskan turun-temurun. Ritual ini dimulai pukul 05.00 pagi, sebelum matahari terbit. Warga setempat menegaskan, barang siapa yang terlambat masuk air, dianggap tidak mendapat berkah penuh.
Di pegunungan Meratus, Kabupaten Balangan, tradisi Balian masih dijalankan oleh dukun kampung yang disebut balian. Ini bukan sekadar pengobatan fisik, melainkan upacara menyembuhkan penyakit dengan memanggil roh leluhur melalui tarian dan nyanyian mantra.
Prosesinya bisa berlangsung semalaman. Keluarga pasien menyiapkan sesaji berupa ketan, telur ayam kampung, dan kain kuning. Saya mendengar dari seorang warga di Desa Loksado, biaya ritual ini sekitar Rp 500.000 hingga Rp 1.500.000 tergantung tingkat kesulitan penyakit. Tak sembarang orang bisa jadi balian—mereka harus mewarisi ilmu dari garis keturunan.
Aruh Ganal adalah pesta adat terbesar bagi suku Dayak Ngaju di Kalimantan Selatan. Berlangsung di Kecamatan Batang Alai Selatan, Hulu Sungai Tengah, tradisi ini digelar setelah musim panen padi selesai. Tujuannya mengucapkan terima kasih kepada sang pencipta dan roh alam.
Yang menarik, setiap keluarga wajib membawa wadai (kue tradisional) minimal 41 jenis. Angka 41 dipercaya sebagai simbol keberkahan. Puncak acara diisi tarian gajah bakisah yang hanya ditarikan oleh pria dewasa. Tahun lalu, Aruh Ganal diadakan pada Agustus 2025 dan dihadiri lebih dari 2.000 orang dari tiga kecamatan.
Basunat bukan sunatan biasa. Tradisi di Kabupaten Tapin ini dilakukan serempak untuk anak laki-laki usia 7-10 tahun. Sepekan sebelum acara, anak-anak itu diarak keliling kampung dengan pakaian adat Banjar lengkap—baju koko hitam, sarung, dan peci emas.
Prosesi puncak disebut badudus, yaitu memandikan calon peserta di sungai dengan air bunga tujuh rupa. Warga percaya air ini menghilangkan rasa takut. Biaya partisipasi biasanya ditanggung gotong royong, sekitar Rp 200.000 per anak untuk konsumsi dan sesaji. Tradisi ini masih lestari di Desa Binuang, Tapin Selatan.
Madihin adalah seni tutur khas Banjar yang dibawakan secara berbalas pantun. Bukan sekadar hiburan, madihin menjadi saluran kritik sosial bagi masyarakat. Seorang madihin (penyair) biasanya menyindir kebijakan pemerintah atau perilaku korupsi dengan bahasa puitis yang tajam.
Saya pernah menyaksikan pertunjukan di Pasar Terapung Siring Banjarmasin. Satu babak berlangsung 45 menit, dan penonton bebas melempar uang receh jika terhibur. Uniknya, madihin tidak punya naskah tetap—semua spontan berdasarkan situasi. Sayangnya, regenerasi pemain madihin sangat lambat. Data Dinas Kebudayaan Kalsel 2024 mencatat hanya 12 orang aktif di seluruh provinsi.
Di Desa Tanjung, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, tradisi Bakar Tongkang digelar setiap akhir tahun. Warga membakar replika perahu tongkang berisi sesaji sebagai simbol melepas sial dan menyambut tahun baru. Api harus berasal dari kayu ulin yang dibakar di tengah lapangan.
Ritual ini berlangsung malam hari, ditemani tabuhan gendang dan tarian baksa kembang. Uniknya, abu dari tongkang yang terbakar diperebutkan warga. Mereka percaya abu itu bisa dijadikan jimat tolak bala. Tahun 2025, acara ini dihadiri sekitar 500 orang dan dipimpin oleh tetua adat berusia 78 tahun, Pak Haji Anang.
Batatamba adalah tradisi makan bersama yang dilakukan di atas tamba, anyaman bambu berbentuk persegi panjang. Bukan sekadar makan, ini ajang silaturahmi antarwarga setelah panen. Setiap keluarga membawa lauk dari rumah, lalu diletakkan di tengah anyaman.
Tradisi ini masih kuat di Desa Piani, Kabupaten Tapin. Aturannya ketat: tamu dilarang mengambil makanan sebelum semua duduk. Jika ada yang melanggar, dianggap tidak sopan dan bisa didenda adat berupa seekor ayam. Batatamba biasanya digelar di halaman rumah kepala desa, mulai pukul 12.00 siang hingga selesai.
Apa perbedaan adat Banjar dan Dayak di Kalimantan Selatan?
Adat Banjar lebih banyak dipengaruhi Islam dan budaya Melayu, dengan ritual seperti Basunat dan Madihin. Adat Dayak Meratus lebih kental dengan animisme, contohnya Balian dan Aruh Ganal.
Apakah wisatawan boleh ikut serta dalam ritual adat ini?
Sebagian besar tradisi terbuka untuk umum, asalkan mematuhi aturan adat. Untuk Balian dan Bakar Tongkang, wisatawan wajib meminta izin kepada tetua adat setempat minimal sehari sebelumnya.
Kapan waktu terbaik menyaksikan Aruh Ganal?
Biasanya setelah panen padi, antara Juli hingga September. Cek jadwal pasti ke Kantor Desa Batang Alai Selatan atau Dinas Pariwisata Hulu Sungai Tengah.
Apakah Madihin masih sering dipertunjukkan?
Jarang. Pertunjukan rutin hanya ada di acara pernikahan atau festival tahunan. Pasar Terapung Siring Banjarmasin kadang menggelarnya setiap Sabtu malam.
Berapa biaya mengikuti ritual Batajak?
Gratis. Warga hanya perlu membawa kain putih sendiri. Jika ingin sesaji, biaya sukarela sekitar Rp 50.000.
Semua tradisi ini bukan sekadar tontonan. Mereka adalah cermin bagaimana masyarakat Kalimantan Selatan menjaga keseimbangan antara alam, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Jika Anda berkesempatan datang ke Banjarmasin atau Hulu Sungai, jangan lewatkan untuk ngobrol langsung dengan tetua adat. Mereka biasanya lebih senang berbagi cerita daripada sekadar difoto.