KALIMANTAN SELATAN — Deddy mengklaim gerakan perekrutan itu tidak hanya menyasar kader PDIP, tetapi juga kader Partai NasDem, Partai Demokrat, dan Partai Amanat Nasional (PAN). Ia menyebut upaya ini sudah terlihat di berbagai daerah dan menyasar anggota dewan, kepala daerah, hingga pengurus partai.
"Apakah akan berdampak pada PDI Perjuangan? Kita lihat saja nanti karena pemilu masih jauh. Kami terus mengawasi gerakan mereka yang terus menerus berusaha membujuk kader-kader PDIP untuk masuk PSI di berbagai daerah," kata Deddy saat dihubungi, Senin (15/6).
Menurut informasi yang diterimanya, para kader itu dibujuk dengan tawaran bantuan material yang lumayan. Meski demikian, Deddy mengaku tidak mengetahui kebenaran informasi tersebut secara pasti.
Deddy menegaskan PDIP tidak takut dengan langkah Jokowi dan PSI. Ia merujuk pada hasil Pemilu 2024 lalu di mana PSI tetap gagal masuk parlemen meski dianggap banyak mendapat keuntungan dari kekuasaan.
"Terus terang kami tidak takut. Pemilu kemarin, saat di puncak kekuasaan dengan jaringan pemerintahan dan APH serta anggaran bansos APBN saja, mereka masih gagal masuk parlemen," katanya.
Lebih lanjut, Deddy memperingatkan bahwa PSI tidak hanya akan berhadapan dengan PDIP. Partai-partai lain yang kadernya direkrut, menurut dia, pasti akan bereaksi.
"Ingat, partai-partai lain pun akan berhadapan dengan mereka karena upaya untuk membajak kader partai-partai lain. Ini banyak sekali terlihat gejalanya, terutama di basis-basis Nasdem, Demokrat, dan PAN. Jadi mereka tidak saja berhadapan dengan PDIP, tetapi juga dengan partai-partai lain yang kadernya dipungut untuk membesarkan PSI secara instan," ujar Deddy.
Menanggapi tudingan tersebut, Ketua DPP PSI Bestari Barus menyebut pernyataan Deddy kurang tepat. Ia menolak istilah "membajak" yang digunakan oleh politikus PDIP itu.
"Kalimat yang pas adalah kader-kader PDIP yang sudah bosan di partai itu, pindah gerbong ke PSI," kata Bestari.
Bestari menambahkan bahwa kepindahan itu merupakan pilihan realistis bagi kader yang ingin bergabung dengan PSI dan Jokowi. "Sudah bosan di PDIP pindah ke PSI untuk bersama-sama dengan PSI dan bersama-sama dengan Pak Jokowi yang pernah menang Pemilu 5 kali itu jauh lebih menjadi jawabannya realistis atas perpindahan. Bukan bajak-membajak, memang sawah, Deddy ini ada-ada aja," ujarnya.