JAKARTA — Tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut pada awal pekan ini. Selain IHSG yang dibuka di zona merah, nilai tukar rupiah juga kembali terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level yang kian menekan.
Berdasarkan data perdagangan, pelemahan IHSG sudah terlihat sejak sesi preopening. Pada sesi tersebut, indeks tercatat turun 94,344 poin atau 1,40 persen ke posisi 6.628,976.
Tekanan jual kemudian semakin dalam begitu perdagangan resmi dibuka. IHSG langsung kehilangan lebih dari 138 poin dan sempat menyentuh level psikologis 6.584. Angka ini menjadi level terendah dalam beberapa waktu terakhir.
Di pasar valuta asing, rupiah tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda penguatan. Mengutip data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp 17.630. Posisi ini menunjukkan pelemahan sebesar 33 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Level tersebut sekaligus menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam periode belakangan ini, memperpanjang tren depresiasi yang sudah berlangsung beberapa pekan terakhir.
Pelemahan IHSG dan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa Asia yang juga berada di zona merah. Hanya Indeks SSE Composite di China yang mampu bertahan di area positif.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual di pasar saham Asia masih cukup masif, dipengaruhi oleh sentimen global yang belum kondusif. Pasar menunggu data ekonomi AS dan kebijakan suku bunga lanjutan dari bank sentral utama dunia.
Pelaku pasar dalam negeri pun masih mencermati pergerakan rupiah yang terus melemah. Pelemahan ini berpotensi menambah tekanan pada IHSG karena investor asing cenderung wait and see di tengah ketidakpastian nilai tukar.