BANJARBARU — Rimba Mart yang digelar di Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI), Komplek Perkantoran Pemprov Kalimantan Selatan, menjadi magnet bagi warga Banjarbaru. Mereka rela mengantre membawa kantong-kantong plastik berisi sampah anorganik untuk ditukar dengan paket sembako.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Pasar Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) serta Pameran Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Sepanjang siang hingga sore, lokasi acara tak sepi dari pengunjung yang ingin memanfaatkan program daur ulang tersebut.
Mekanisme Penukaran: Botol Bekas Dihargai Sesuai Berat
Warga yang datang tidak hanya membawa sampah rumah tangga, tetapi juga botol plastik, gelas kemasan, hingga kardus bekas. Setiap jenis sampah memiliki nilai tukar yang berbeda, dan petugas di lokasi langsung melakukan penimbangan.
Setelah ditimbang, nilai sampah tersebut dikonversi menjadi poin yang bisa ditukar dengan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan mie instan. Sistem ini dinilai warga cukup membantu di tengah harga kebutuhan pokok yang fluktuatif.
Warga Sebut Program Ini Bantu Kurangi Beban Rumah Tangga
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku terbantu dengan adanya Rimba Mart. Menurutnya, sampah yang selama ini menumpuk di rumah kini memiliki nilai ekonomis.
"Biasanya botol bekas cuma dibuang atau dijual sangat murah ke pengepul. Di sini bisa langsung ditukar dengan beras, jadi lumayan membantu," ujarnya di sela antrean.
Ia berharap program serupa bisa rutin diadakan, tidak hanya saat gelaran pameran saja. Pasalnya, kesadaran warga untuk memilah sampah mulai tumbuh ketika ada insentif langsung seperti ini.
Dampak Lingkungan: Mengurangi Beban TPA Regional
Selain memberi manfaat ekonomi, kegiatan ini juga berdampak positif bagi lingkungan. Sampah anorganik yang terkumpul tidak lagi berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Banjarbakula yang selama ini kewalahan menampung volume sampah harian.
Melalui mekanisme barter ini, Dinas Lingkungan Hidup setempat berharap masyarakat semakin sadar bahwa sampah bukan sekadar barang sisa, melainkan komoditas yang bisa didaur ulang.
Rimba Mart sendiri menjadi salah satu daya tarik utama dalam rangkaian acara yang mengusung tema rehabilitasi hutan dan lahan tersebut. Panitia mencatat antusiasme warga tahun ini meningkat dibanding edisi sebelumnya.
Langkah Ke Depan: Perluasan Titik Penukaran Sampah
Keberhasilan Rimba Mart di Banjarbaru membuka peluang perluasan lokasi penukaran sampah ke kecamatan lain. Jika program ini berkelanjutan, bukan tidak mungkin model bank sampah modern ini bisa menekan angka sampah liar di kawasan permukiman.
Untuk saat ini, warga yang belum sempat menukarkan sampahnya masih bisa datang ke lokasi selama acara berlangsung. Panitia menyediakan kuota harian agar distribusi sembako tetap merata.
Para pengunjung pun diimbau untuk tetap membawa sampah dalam kondisi kering dan terpilah, agar proses penimbangan dan penilaian berjalan lebih cepat.