BANJARMASIN — Kota berusia nyaris 500 tahun ini memiliki karakteristik urban yang unik di Indonesia. Berbeda dengan kota-kota besar lain yang tumbuh di atas tanah vulkanik atau menjadi simpul perdagangan darat, Banjarmasin lahir dari rawa, delta, dan jaringan sungai yang membentuk peradabannya sejak era Kesultanan Banjar. Namun, identitas sebagai “kota air” itu kini berubah menjadi beban ekologis.
Ancaman Ganda: Tanah Turun, Air Laut Naik
Data hidrologi tiga dekade terakhir menunjukkan sebagian wilayah Banjarmasin berada di bawah permukaan laut. Kondisi ini bukan semata akibat perubahan iklim global, melainkan kombinasi berbahaya yang disebut para ahli sebagai relative sea level rise—permukaan air laut naik sementara daratan justru ambles.
“Tantangan Banjarmasin bukan sekadar kenaikan muka laut. Tantangannya jauh lebih kompleks dan lokal,” tulis Subhan Syarief dalam analisisnya di jejakrekam.com. Tanah lunak bekas delta dan tekanan beban pembangunan perkotaan yang masif mempercepat penurunan muka tanah secara perlahan.
Dari Sungai Jadi “Halaman Belakang”
Selama hampir empat abad, wajah Banjarmasin menghadap ke sungai. Rumah panggung, masjid tua, dan pasar terapung menjadi denyut nadi kota. Sungai bukan sekadar jalur transportasi—ia adalah jalan raya, ruang sosial, dan identitas spiritual masyarakat Banjar.
Namun, abad ke-20 mengubah orientasi itu. Jalan raya menggantikan perahu, kendaraan bermotor menggantikan jukung. Permukiman baru tumbuh menjauh dari tepian air. Bantaran sungai perlahan berubah menjadi area belakang yang kumuh dan terabaikan. Banyak anak sungai menyempit akibat sedimentasi dan sampah, rawa-rawa ditimbun untuk perumahan, dan daerah resapan berkurang drastis.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Pertanyaan besarnya, setelah lima abad, mau melangkah ke mana Banjarmasin? Membayangkan masa depan kota ini sebagai metropolis dengan gedung pencakar langit dan jalan tol mungkin bukan lagi pilihan realistis. Sebagian kawasan dengan elevasi rendah berisiko mengalami genangan permanen dan banjir rob yang semakin parah dalam beberapa dekade mendatang.
Para pemerhati perkotaan menekankan perlunya pendekatan adaptif, bukan lagi upaya “menaklukkan” air dengan beton dan pompa. Kota yang lahir dari air mungkin harus kembali belajar hidup bersama air—dengan tata ruang yang menghormati dinamika delta, bukan melawannya.