BANJARMASIN — Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Diauddin, menyebut persoalan pemeliharaan alat kesehatan (alkes) di puskesmas dan rumah sakit bukan sekadar soal anggaran. Masalahnya justru pada sumber daya manusia dan budaya dokumentasi.
"Memiliki alat kesehatan yang lengkap saja tidak cukup. Alat tersebut harus dipelihara secara baik dan berkelanjutan agar tetap berfungsi optimal," ujar Diauddin di Banjarmasin, Selasa (9/6/2026).
Empat Masalah Utama Perawatan Alkes
Dalam pertemuan yang digelar Dinkes Kalsel, setidaknya ada empat titik lemah yang diidentifikasi. Pertama, keterbatasan SDM yang punya kompetensi teknis untuk merawat alkes. Kedua, pelaksanaan pemeliharaan preventif yang belum berjalan optimal. Ketiga, pencatatan dan dokumentasi pemeliharaan yang masih amburadul. Keempat, kalibrasi alat yang tidak terdokumentasi dengan baik.
"Apabila kondisi ini tidak ditangani secara serius, maka dapat berdampak pada menurunnya kualitas pelayanan kesehatan dan berpotensi menimbulkan risiko terhadap keselamatan pasien," kata Diauddin.
Bukan Sekadar Punya Alat, Tapi Rawat
Menurut Diauddin, ketersediaan alkes yang memadai memang penting. Tapi tanpa pengelolaan yang baik, alat-alat mahal itu hanya akan menjadi pajangan atau malah membahayakan pasien. Alkes yang tidak terkalibrasi, misalnya, bisa memberikan hasil