KALIMANTAN SELATAN — PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menghemat devisa Rp 7 triliun hingga Rp 9 triliun per tahun setelah menghentikan impor alumina untuk bahan baku produksi aluminium. Penghematan itu ditopang beroperasinya fasilitas pemurnian bauksit di dalam negeri, bagian dari rantai hilirisasi mineral Grup MIND ID.
Penghematan itu disampaikan Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum Arif Haendra dalam forum BIG Downstream Insight 2026. Menurut dia, kepemilikan fasilitas pemurnian sendiri membuat perusahaan tidak lagi bergantung pada pasokan alumina dari luar negeri.
Alumina merupakan bahan baku utama peleburan aluminium. Selama bertahun-tahun, Inalum mendatangkannya dari pasar global, sehingga arus devisa keluar setiap tahun. Kini pasokan itu datang dari fasilitas pemurnian yang dibangun di dalam negeri.
"Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun gitu ya. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina," kata Arif.
Penguatan pasokan bahan baku ditopang ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium yang dikembangkan Inalum bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) di Mempawah, Kalimantan Barat. Kawasan itu mencakup enam proyek: lima di lingkungan Grup MIND ID dan satu milik Pelindo.
Di sisi hulu, bijih bauksit dipasok dari satu izin usaha pertambangan (IUP) milik ANTAM dan enam IUP anak perusahaannya. Bijih kemudian diolah melalui fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) menjadi alumina untuk industri aluminium.
SGAR fase I sudah berproduksi dengan kapasitas mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk kebutuhan Inalum lewat perjanjian jangka panjang, sedangkan 450 ribu ton sisanya dijual ke pasar ekspor.
Skema itu membuat pasokan domestik dan penjualan internasional berjalan beriringan. Kehadiran pemurnian di dalam negeri juga memendekkan jarak antara penambangan bauksit dan pengolahan aluminium, sehingga bahan mentah mineral bisa dimanfaatkan lebih jauh sebelum keluar dari Indonesia.
Inalum dan ANTAM menyiapkan pengembangan SGAR fase II untuk memperkuat ekosistem hilirisasi. Arif menyebut studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan atau bankable feasibility study (BFS) sudah selesai dan akan segera masuk tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID).
Belum ada keterangan soal nilai investasi maupun target kapasitas tambahan dari fase II. Namun keputusan itu menjadi penentu seberapa besar volume alumina yang bisa dipasok ke industri aluminium nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Ketersediaan alumina di dalam negeri menjadi modal bagi sektor pengguna aluminium, mulai dari manufaktur kendaraan listrik, konstruksi, transportasi, hingga kelistrikan. Selama pasokan bahan baku aman, industri pengolahan tidak perlu menahan produksi karena kelangkaan input impor.
Bagi negara, penghematan devisa Rp 7 triliun–Rp 9 triliun per tahun mengurangi tekanan pada neraca perdagangan dari sisi impor bahan baku. Angka itu setara dengan biaya pembangunan sejumlah infrastruktur dasar di daerah, meski nilainya bergantung pada kurs dan harga alumina dunia.
Hilirisasi bauksit sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah untuk menghentikan ekspor mineral mentah. Larangan ekspor bijih bauksit diberlakukan sejak 2023, mendorong perusahaan membangun smelter dan pemurnian di dalam negeri.
Bagi Inalum, kemandirian alumina memperkuat posisinya sebagai produsen aluminium nasional di tengah permintaan yang tumbuh dari sektor energi dan transportasi. Keberhasilan fase II akan menentukan apakah penghematan devisa bisa berlanjut atau bertambah besar.