Rudal Hantam Bandara Riyadh, Bos BP Batal Hadir di Kongres Energi Dunia

Penulis: Wahyudi Santoso  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:37:01 WIB
Serangan rudal di Bandara Internasional Riyadh menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.

KALIMANTAN SELATAN — Serangan rudal di Bandara Internasional Riyadh menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya pada Sabtu (10/10), memaksa BP membatalkan kehadiran dalam Kongres Energi Dewan Perminyakan Dunia (WPC) di Arab Saudi. Pembatalan ini menandai gangguan pertama berskala besar pada pertemuan puncak industri migas global yang berlangsung lima hari tersebut.

Riyadh - BP memastikan tidak akan hadir secara langsung dalam Kongres Energi Dewan Perminyakan Dunia (World Petroleum Council/WPC) yang digelar di Riyadh, Arab Saudi. Keputusan diambil setelah serangan rudal menghantam bandara internasional kota itu dan menutup akses penerbangan.

Juru bicara BP menyatakan perusahaan telah berupaya maksimal untuk tetap ikut serta. Namun gangguan perjalanan membuat delegasi mereka urung berangkat ke lokasi acara.

"Kami telah melakukan segala upaya untuk berpartisipasi dalam WPC. Sayangnya, akibat gangguan perjalanan, kami tidak dapat hadir secara langsung. Kami sangat menghargai kemitraan jangka panjang kami di kawasan ini," kata juru bicara BP, sebagaimana dikutip Reuters, Senin (12/10/2026).

Korban dan Dampak Serangan

Serangan pada Sabtu (10/10) menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Bandara internasional Riyadh sempat ditutup menyusul insiden tersebut.

Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya korban luka dalam serangan lain yang menyasar bandara yang sama pada Minggu. Belum ada perincian lebih lanjut mengenai jumlah korban maupun dampak serangan kedua tersebut.

Kongres Tetap Berjalan Sesuai Jadwal

Meski bandara sempat lumpuh, konferensi energi internasional yang berlangsung selama lima hari tetap digelar sesuai jadwal pada Minggu. Panitia memilih melanjutkan agenda meski sejumlah delegasi korporasi besar tidak bisa hadir fisik.

WPC menjadi ajang pertemuan para petinggi perusahaan migas dunia, pembuat kebijakan, dan investor sektor energi. Kehadiran langsung para bos perusahaan menjadi bagian penting dari agenda lobi dan penandatanganan kerja sama di sela-sela kongres.

Absennya BP dan Risiko Rantai Pasok Energi

BP merupakan salah satu perusahaan energi terbesar dunia dengan operasi di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah. Ketidakhadiran mereka secara langsung berpotensi mengurangi intensitas pembahasan kerja sama teknis dan investasi yang biasanya berlangsung di sela kongres.

Bagi pelaku pasar energi, insiden ini menambah lapisan risiko geopolitik di kawasan yang selama ini menjadi pemasok utama minyak mentah global. Gangguan pada infrastruktur penerbangan di ibu kota Arab Saudi dapat memengaruhi mobilitas eksekutif dan jadwal pertemuan bisnis lintas negara.

Belum ada keterangan resmi dari penyelenggara WPC mengenai berapa banyak delegasi korporasi lain yang turut membatalkan kehadiran akibat serangan tersebut. Sejumlah perusahaan diperkirakan mengalihkan partisipasi ke jalur virtual.

Serangan rudal di Riyadh menjadi ujian bagi penyelenggaraan forum energi internasional di kawasan konflik. Bagi Indonesia, yang memiliki kepentingan dalam kerja sama energi dengan negara-negara Timur Tengah, stabilitas kawasan ini tetap menjadi faktor penting dalam perencanaan pasokan dan investasi sektor migas.

Reporter: Wahyudi Santoso
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top