BANJARBARU — Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra menyebut titik api baru yang terdeteksi memiliki karakteristik berbeda dari kebakaran di kawasan Ring 1. Sebagian besar berada di lahan mineral atau lahan padat, bukan lahan gambut.
"Namun titik api ini berbeda dengan titik api yang berada di kawasan Ring 1 yaitu lahan gambut," ujar Ronny di Banjarbaru, Kamis.
Kebakaran di lahan mineral relatif tidak terlalu sulit dipadamkan. Kondisi itu berbeda dengan lahan gambut yang bisa menyimpan sumber panas di bawah permukaan dan terus mengeluarkan asap.
Lahan gambut menuntut penanganan lebih intensif karena api bisa bertahan di bawah tanah meski permukaan sudah disemprot air.
"Secara umum kondisi karhutla di Kalimantan Selatan relatif dapat dikendalikan, meskipun masih terdapat sejumlah titik yang mengeluarkan asap sehingga petugas terus melakukan pemantauan dan penanganan untuk mencegah api berkembang," kata Ronny.
Dari total 360 hektare yang ditangani, sekitar 80 hektare lahan gambut masih menjadi perhatian serius. Area itu belum padam sepenuhnya sehingga waktu penanganannya lebih lama dibanding titik api di lahan mineral.
Metode pemadaman disesuaikan dengan karakteristik lahan. Keselamatan dan kesehatan petugas tetap diprioritaskan agar upaya pemadaman berjalan optimal di lapangan.
Ronny menegaskan petugas tidak boleh lengah terhadap kemunculan titik api baru. Kondisi lapangan yang mengalami kekeringan dan keterbatasan sumber air masih berpotensi memicu perluasan kebakaran.
Pemantauan dilakukan terus-menerus di sejumlah titik yang masih mengeluarkan asap. Langkah itu untuk mencegah api berkembang ke area yang lebih luas.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung penanganan karhutla di Kalimantan Selatan pada hari yang sama. Ia mengapresiasi upaya dan kerja keras para petugas di lapangan.
Wapres juga mengingatkan seluruh unsur agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi kemunculan titik api baru.