KALIMANTAN SELATAN — Lebih dari 100 perwakilan pemerintah Indonesia, pelaku usaha, media, asosiasi bisnis Tionghoa perantauan, hingga lembaga kebudayaan dan pariwisata hadir dalam kesempatan tersebut. Lewat pemutaran video, pertunjukan langsung, hingga pameran, Henan memperlihatkan diri sebagai provinsi dengan warisan sejarah yang dalam.
Henan tidak menawarkan wisata modern semata. Provinsi ini justru menjual akar peradaban Tionghoa. Beberapa unsur budaya yang ditonjolkan dalam promosi ini meliputi kota-kota kuno, seni bela diri, kerajinan porselen, hingga budaya aksara Tionghoa.
Untuk memudahkan wisatawan Indonesia, penyelenggara memperkenalkan lima rute wisata yang sudah dikemas khusus. Rute tersebut diberi nama tematik yang menggambarkan esensi perjalanannya.
Pameran Budaya Heluo yang menyertai konferensi ini mengangkat tema yang lebih dalam dari sekadar promosi wisata. Pengunjung diajak menelusuri asal-usul peradaban Tionghoa, sejarah musik, warisan porselen, perkembangan aksara, hingga asal-usul marga Tionghoa.
Yang menarik, pameran ini tidak berjarak dengan budaya lokal. Penyelenggara mengaitkan narasi budaya Heluo dengan budaya Indonesia, menyajikan kisah perkembangan peradaban yang membentang dari kawasan Sungai Kuning hingga Laut Jawa. Pendekatan ini membuat pengunjung Indonesia merasa terhubung, bukan sekadar melihat benda asing dari negara lain.
Kedekatan budaya antara Henan dan Indonesia juga disuarakan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan. Ia menyebut Henan dan Indonesia memiliki banyak kesamaan budaya dan berharap kerja sama ini terus berlanjut.
"Henan dan Indonesia memiliki banyak kesamaan budaya. Kami berharap semakin banyak kegiatan budaya Henan yang hadir di Indonesia," ujar Erwan dalam kesempatan tersebut.
Promosi tidak berhenti di ruang konferensi. Sebelum acara puncak di Bandung, rangkaian kegiatan budaya pop-up telah digelar pada 1–3 September di sejumlah lokasi di Jakarta dan Bandung. Landmark budaya, pusat perbelanjaan, hingga universitas menjadi panggung interaksi budaya.
Para pewaris budaya takbenda dari Henan turun langsung memperagakan keahlian mereka. Seni potong kertas, budaya dupa, pengobatan tradisional untuk cedera tulang, upacara minum teh, pembuatan keramik Tang Sancai, seni bela diri, hingga musik tradisional Tiongkok bisa disaksikan dan dicoba langsung oleh pengunjung.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi pintu masuk penguatan pertukaran budaya sekaligus membuka peluang kerja sama pariwisata yang lebih konkret antara Henan dan Indonesia. Bagi wisatawan yang tertarik mengeksplorasi destinasi bersejarah di Tiongkok di luar kota-kota besar seperti Beijing atau Shanghai, Henan menawarkan perspektif berbeda: perjalanan ke akar peradaban.
Informasi lebih lanjut mengenai rute wisata dan jadwal promosi serupa dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi dinas pariwisata Provinsi Henan atau perwakilan pariwisata Tiongkok di Indonesia.