KALIMANTAN SELATAN — Mitsubishi resmi membawa Eclipse Sportback 2027 sebagai EV pertamanya di pasar Amerika Serikat, hampir satu dekade setelah i-MiEV gagal. Secara teknis, mobil ini adalah Nissan Leaf yang didesain ulang dengan sentuhan khas Mitsubishi. Ubahan paling mencolok ada di bagian wajah: grille bergigi 20—sepuluh di setiap sisi logo tiga berlian—yang membuatnya jauh lebih agresif ketimbang Leaf.
Kami menjajal prototipe pra-produksi di area Seattle. Kesan pertama: mobil ini lincah dan menyenangkan, meski secara mekanis identik dengan Leaf. Powertrain mengandalkan motor listrik 214 hp dengan torsi 261 pound-feet yang menggerakkan roda depan, dipasok baterai 75-kWh.
Akselerasi 0-60 mph diproyeksikan 6,9 detik, berdasarkan hasil tes kami terhadap Leaf yang identik. Angka ini tidak istimewa, tapi cukup untuk mengikuti arus lalu lintas perkotaan. Saat keluar dari tikungan dengan pedal gas dalam, torsi besar sempat membuat roda depan dalam kehilangan traksi—konsekuensi umum EV berpenggerak roda depan.
Di jalanan Seattle yang dipenuhi bundaran dan penyempitan jalur, Eclipse Sportback terasa gesit. Body roll cukup terasa jika dipacu agresif, tapi perilakunya tetap bisa diprediksi. Radius putar 35,4 kaki memudahkan manuver di area parkir sempit, dan ban sidewall tebal pada pelek 18 inci meredam ketidakrataan jalan dengan baik.
Keunggulan utama mobil ini adalah kabin yang sangat senyap. Hampir tidak ada suara whine dari komponen kelistrikan, dan tiupan angin tertahan baik. Jok berbahan campuran panel datar dan quilted diamond dengan dominasi hitam memberikan kesan layak di kelasnya.
Namun, beberapa elemen mengingatkan bahwa ini bukan mobil premium. Deretan empat tombol persegi hitam untuk Park, Reverse, Neutral, dan Drive di tengah dasbor terlihat murah dan terasa jadul. Material dasbor juga masih memakai campuran plastik keras dan lunak khas mobil kompak.
Mitsubishi menyediakan lima level regenerative braking (B1 hingga B5) plus tombol e-Step yang meningkatkan deselerasi lebih agresif—disebut eksekutif Mitsubishi sebagai "B8". Sayangnya, sistem ini tidak mendukung full one-pedal driving; pengemudi tetap harus menginjak rem untuk berhenti total di bawah kecepatan sekitar 8 mph. Creep torque tetap ada seperti mobil matic konvensional, tapi fitur Auto Hold bisa mematikannya setelah berhenti sempurna.
Port pengisian mengadopsi strategi ganda ala Leaf: port NACS di fender kanan depan untuk DC fast-charging dengan kecepatan maksimal 150 kW (10-80 persen dalam 35 menit kondisi ideal), dan port J-1772 di fender kiri untuk AC charging 7,2 kW yang mengisi 20-80 persen dalam sekitar 6,5 jam. Adaptor CCS-to-NACS disertakan, dan mobil otomatis melakukan preconditioning baterai jika pengguna memasukkan fast-charger sebagai tujuan navigasi.
Fakta bahwa Eclipse Sportback hanyalah Nissan Leaf dengan ubahan kosmetik bukanlah rahasia. Mitsubishi mengubah lampu depan, bumper, grille, pelek, dan menambahkan aksen krom di pilar C serta huruf Mitsubishi besar di pintu bagasi. Namun dari sisi samping dan belakang, kemiripannya dengan Leaf sangat kentara.
Nissan sendiri kesulitan menjual Leaf generasi terbaru—hanya 2.184 unit terkirim sejak Oktober 2025 hingga Juni 2026. Mitsubishi berharap nama Eclipse yang legendaris dan desain depan lebih berkarakter bisa menarik minat berbeda. Dengan harga yang diproyeksikan Rp 560-640 jutaan, mobil ini bersaing dengan Hyundai Ioniq 5 dan Kia EV6 di pasar global, meski secara teknis berada di kelas lebih rendah.
Eclipse Sportback 2027 adalah EV yang kompeten untuk penggunaan harian: senyap, nyaman, range memadai, dan sistem pengisian fleksibel. Namun, ini bukan mobil yang memuaskan penggemar Mitsubishi yang mengharapkan sesuatu yang benar-benar baru. Jika Anda mencari EV kompak dengan harga terjangkau dan tidak masalah dengan identitas rebadge, mobil ini layak dipertimbangkan. Jika Anda menginginkan pengalaman berkendara lebih istimewa atau teknologi lebih canggih, ada opsi lain di kelas yang sama.
Kelebihan:
Kekurangan: