KALIMANTAN SELATAN — Kekalahan telak di Stadion Al Thumama, Qatar, itu seharusnya menjadi pukulan telak bagi Kanada. Namun Marsch justru berkata, "Aku lebih memilih menjadi kami daripada mereka (Maroko)," usai laga yang membuat timnya pulang lebih awal.
"Betapa beruntungnya fans kami mendukung tim seperti ini, yang terus menyerang, tidak bertahan, dan menunjukkan mereka bisa lebih baik, kan?" ujar Marsch dengan tenang dalam wawancara seusai pertandingan.
"Tentu saja kami harus lebih sering berada di situasi seperti ini, lalu mencari cara untuk sukses, dan membangun. Tapi sungguh tim yang hebat," lanjut pelatih asal Amerika Serikat itu.
Meski Marsch mengklaim timnya tampil menekan, data menunjukkan cerita berbeda. Kanada menciptakan 0.86 xG (Expected Goals) dari 10 percobaan tembakan, namun hanya tiga yang mengarah ke gawang.
Maroko justru lebih mematikan dengan hanya 0.78 xG. Dua gol Azzedine Ounahi (55' dan 82') ditambah satu gol Soufiane Rahimi di masa injury time sudah cukup membungkam Kanada.
Bahkan legenda sepak bola AS, Clint Dempsey dan Landon Donovan yang menjadi panelis FOX Sports, tampak kebingungan mendengar pernyataan Marsch.
Dengan hasil ini, Maroko—juara Piala Afrika—berhak melaju ke perempat final. Mereka akan menunggu pemenang duel Perancis vs Paraguay yang digelar malam nanti. Bagi Kanada, kegagalan ini menjadi pelajaran pahit setelah tampil impresif di fase grup.
Marsch mungkin bangga dengan "semangat menyerang" timnya, tapi sepak bola bukan hanya soal niat. Hasil akhir 3-0 adalah realitas yang tak bisa dibantah.