KALIMANTAN SELATAN — Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, tengah dilanda badai moral di internalnya. Sebuah laporan dari Wired mengungkap bahwa unit Applied AI yang baru berusia tiga bulan itu berada di ambang pemberontakan. Para karyawan yang tergabung di dalamnya menyebut kondisi kerja mereka "menghancurkan jiwa" (soul-crushing).
Ketegangan bermula dari proses perekrutan internal yang kontroversial. Berdasarkan laporan Business Insider bulan lalu, banyak karyawan mengetahui mereka akan dipindahkan ke unit Applied AI hanya melalui email mendadak. Seorang karyawan yang menyebut dirinya "wajib militer" (draftee) di Reddit menggambarkan proses tersebut sebagai "cukup acak."
Dalam pengumuman internal yang ditinjau oleh Business Insider, alasan pemindahan ini adalah karena model AI Meta dinilai belum cukup cerdas untuk mengalahkan manusia dalam tugas teknis seperti coding. "Agar agen AI dapat memahami bagaimana manusia menyelesaikan tugas sehari-hari menggunakan komputer, kami perlu melatih model kami dengan contoh nyata," demikian bunyi pengumuman tersebut.
Seorang karyawan yang berbicara kepada Wired dengan tegas menggambarkan situasi di unit tersebut. "Ini benar-benar gulag," katanya, merujuk pada sistem kamp kerja paksa di era Soviet. Karyawan lain menambahkan, "Kebanyakan orang menganggap pekerjaan ini menghancurkan jiwa."
Tugas utama para insinyur ini adalah membuat teka-teki dan soal coding untuk melatih model AI Meta. Pekerjaan ini dianggap jauh dari tugas pengembangan produk yang lebih inovatif dan strategis.
Dalam rekaman audio pertemuan internal yang bocor, CEO Mark Zuckerberg memberikan alasannya memilih merekrut dari dalam perusahaan. Ia menyebut bahwa rata-rata karyawan Meta memiliki kecerdasan yang "secara signifikan lebih tinggi" dibandingkan kontraktor pihak ketiga. Ia juga merujuk pada Alexandr Wang, kepala AI Meta, yang sebelumnya menjual perusahaan data labeling-nya, Scale AI, ke Meta seharga USD 14,3 miliar.
Karyawan yang terkena dampak mengaku tidak punya pilihan: bergabung atau keluar. Banyak dari mereka menyebut diri mereka sebagai "draftees" atau wajib militer.
Masalah moral tidak hanya terbatas pada unit Applied AI. Lebih dari 1.600 karyawan Meta di seluruh perusahaan dilaporkan telah menandatangani petisi yang memprotes program yang memonitor klik dan ketukan tombol (keystrokes) mereka untuk data pelatihan AI. Suasana suram ini memaksa Chief Product Officer Meta, Chris Cox, untuk angkat bicara dalam sebuah panggilan dengan karyawan pekan ini, mengakui lingkungan yang "brutal."
Puncak kemarahan terjadi ketika seseorang membajak siaran langsung presentasi internal yang hanya untuk karyawan pekan ini. Pelaku melontarkan makian dan menuntut hadirin untuk memberi tahu seorang eksekutif AI senior Meta bahwa dia adalah "sampah." Salah satu presenter terlihat menutup wajahnya dengan tangan karena terkejut.
Menanggapi situasi ini, Mark Zuckerberg dilaporkan mengirimkan memo internal pada Jumat lalu. Ia mengakui bahwa perubahan baru-baru ini telah "menyebabkan kesusahan" dan mengakui perusahaan telah membuat kesalahan yang akan diperbaiki. "Bintang utara Meta adalah menjadi tempat terbaik bagi orang-orang paling berbakat di dunia untuk membuat dampak," tulisnya dalam memo tersebut, seperti dikutip oleh Wired.