BANJARMASIN — Pernyataan itu disampaikan Aries Mardiono dalam sebuah forum diskusi dengan elemen mahasiswa di Banjarmasin, belum lama ini. Ia menekankan peran historis mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak boleh surut di era digital.
"Mahasiswa itu jangan cuma nongkrong. Mereka adalah motor penggerak reformasi. Saatnya kembali ke kampus dan menjadi pengawas partisipatif," ujar Aries dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (18/7/2024).
Aries menyoroti fenomena mahasiswa yang lebih banyak menghabiskan waktu di warung kopi atau pusat perbelanjaan dibandingkan terlibat dalam isu-isu kebangsaan. Menurutnya, semangat reformasi 1998 lahir dari gerakan mahasiswa yang turun ke jalan dan mengawasi kebijakan penguasa.
"Semangat itu harus dirawat. Sekarang tantangannya berbeda, tapi peran mahasiswa tetap sama: mengawal demokrasi dan mengawasi proses pemilu," tegasnya.
Bawaslu Kalsel sendiri tengah gencar merekrut pengawas partisipatif dari kalangan mahasiswa. Aries mengajak mahasiswa untuk tidak apatis dan ikut serta dalam setiap tahapan Pilkada Serentak 2024 yang akan digelar pada November mendatang.
"Jangan sampai kita hanya menjadi penonton. Mahasiswa harus hadir di setiap titik rawan pelanggaran," imbuhnya.
Aries berharap pernyataannya bisa menggugah kesadaran mahasiswa di Kalimantan Selatan untuk kembali ke peran strategisnya. "Bukan berarti nongkrong itu salah, tapi jangan sampai itu menjadi aktivitas utama. Ada tugas yang lebih besar menanti," pungkasnya.