Solar Masih Langka di Kotabaru, Nelayan Siap Turun ke Jalan Protes ke Pemkab

Penulis: Arif Budiman  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:32:02 WIB
Nelayan Kotabaru antre panjang di SPBU akibat kelangkaan solar bersubsidi.

KOTABARU — Ancaman aksi unjuk rasa kembali menggema di pesisir Kalimantan Selatan. Nelayan di Kabupaten Kotabaru siap menggelar aksi turun ke jalan menyusul kelangkaan solar bersubsidi yang tak kunjung usai. BBM jenis tersebut menjadi nyawa bagi ribuan kapal motor nelayan untuk melaut.

Keluhan warga pesisir di Bumi Saijaan—julukan Kabupaten Kotabaru—sudah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir. Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjadi pemandangan harian. Tak jarang, nelayan harus mengantre sejak subuh hanya untuk mendapatkan jatah solar bersubsidi yang terbatas.

Nelayan Teriak, Produksi Melaut Terhambat

Para nelayan mengaku pendapatan mereka merosot drastis karena waktu melaut terbuang sia-sia untuk mengantre solar. "Kami sudah sangat jenuh. Setiap hari harus rebutan solar, kadang dapat, kadang tidak. Ini sudah seperti siksaan," ujar seorang perwakilan nelayan di Kotabaru.

Jika aksi turun ke jalan benar-benar dilakukan, mereka akan menuntut Pemkab Kotabaru dan Pertamina untuk menambah kuota solar bersubsidi. Massa juga meminta pengawasan ketat di tingkat distributor agar solar tidak bocor ke industri atau dijual dengan harga lebih tinggi.

Fakta Singkat Kelangkaan Solar di Kotabaru

  • Nelayan mengantre rata-rata 3-4 jam per hari untuk mengisi solar.
  • Beberapa SPBU membatasi pembelian maksimal Rp 100.000 per kapal.
  • Solar eceran di pengecer liar dijual Rp 8.000-Rp 10.000 per liter, jauh di atas HET.

Apa Langkah Pemkab Kotabaru Selanjutnya?

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Perikanan dan Perindustrian Perdagangan Kotabaru belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun, tekanan dari kalangan nelayan terus menguat. Jika tidak ada respons cepat dalam beberapa hari ke depan, aksi massa di depan kantor bupati atau kantor Pertamina setempat dipastikan tak terelakkan.

Kelangkaan solar bersubsidi bukan pertama kali terjadi di Kotabaru. Pada awal 2024 lalu, aksi serupa sempat merebak namun mereda setelah ada penambahan kuota sementara. Kini, persoalan yang sama kembali menghantui para pencari nafkah di lautan.

Reporter: Arif Budiman
Sumber: radarbanjarmasin.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top