Petani Ekspor Tersenyum di Tengah Pelemahan Rupiah: Wamentan Sebut Kopi hingga Gula Aren Raup Untung Besar

Penulis: Benny Surbakti  •  Senin, 25 Mei 2026 | 18:27:25 WIB
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyampaikan keuntungan ekspor kopi dan gula aren di tengah pelemahan rupiah.

KALIMANTAN SELATAN — Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa depresiasi rupiah—yang kerap dipandang sebagai tekanan ekonomi—justru menghadirkan keuntungan signifikan bagi sektor perkebunan. Dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Jakarta, Senin (25/5/2026), ia menyebut para petani eksportir tengah menikmati momen emas.

"Jadi sebetulnya nilai tukar (Rupiah) yang agak melemah (terhadap Dolar AS) ini ada beberapa, ada jutaan petani kita yang happy. Karena ekspor kopinya dibayar pakai Dolar, ekspor karetnya dibayar pakai Dolar, ekspor cengkeh, ekspor gula aren, ekspor gula, kelapa, ekspor serabut kelapa, ekspor macam-macam," kata Sudaryono.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terus tertekan di level Rp 17.744 per dolar AS. Bank Indonesia mencatat depresiasi mata uang garuda baru mencapai 5 persen.

Ekspor UMKM dan Koperasi Desa Menggeliat

Sudaryono mengaku telah meresmikan berbagai kegiatan ekspor yang dilakukan pelaku UMKM dan koperasi desa di sejumlah daerah. Wilayah yang sudah ia kunjungi meliputi Banjarnegara, Banyumas, Jember, Kulon Progo, hingga beberapa titik di Jawa Timur.

"Saya sudah meresmikan ekspor UMKM mungkin di 4 atau 5, oh di 8 koperasi desa, di Banjarnegara, Jember kemudian di Banyumas, kemudian di Jawa Timur, di Kulon Progo, di Jogja, dan happy," sebutnya.

Produk pertanian dan turunannya mulai banyak menembus pasar internasional. Ini sinyal positif bahwa sektor riil di pedesaan mampu bersaing di level global, terutama saat nilai tukar dolar sedang perkasa.

Tantangan Impor Pangan dan Peluang Besar di Depan

Meski optimistis, Sudaryono mengakui pelemahan rupiah membawa tantangan tersendiri. Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan pangan tertentu, yang otomatis lebih mahal akibat kurs yang melemah.

Namun, ia menilai kondisi ini justru menjadi momentum memperkuat produksi dalam negeri. Dengan memacu ekspor, tekanan dari sisi impor bisa diimbangi.

"Jadi tentu saja ini jadi tantangan, betul nilai tukar ini juga ada beberapa kebutuhan pangan kita yang masih impor, tapi selama kita bisa genjot ekspor dengan nilai tukar ini, bisa jadi krisis ini menjadi sebuah opportunity yang besar bagi Indonesia, kita mandiri di sektor pangan, bahkan kalau surplus kita bisa ekspor," tutup Sudaryono.

Pernyataan ini menjadi pengingat: di balik gejolak nilai tukar, selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan—terutama bagi sektor yang mengandalkan pasar luar negeri sebagai tulang punggung pendapatan.

Reporter: Benny Surbakti
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top