BANJARMASIN — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Bank Indonesia menggelar Banua QRIStival 2026 pada 23-24 Mei 2026 di halaman Kantor Gubernur, Jalan Jenderal Sudirman, Banjarmasin. Festival ini menjadi motor penggerak untuk mempercepat transisi dari transaksi tunai ke digital di kalangan masyarakat dan pelaku UMKM.
Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Subhan Noor Yaumil, mewakili Gubernur H. Muhidin secara resmi membuka acara yang dikemas dengan kegiatan olahraga, kompetisi kreatif, kuliner, dan panggung hiburan. “Ini langkah sukses untuk mendorong perluasan digitalisasi pembayaran di kalangan masyarakat,” ujarnya saat membuka festival, Sabtu (23/5).
Rangkaian acara dimulai dengan fun run sejauh 5 kilometer yang dilepas oleh Subhan bersama Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalsel, Fadjar Majardi. Rute lari menyusuri Jalan Jenderal Sudirman, AS Musaffa, Djok Mentaya, RE Martadinata, Lambung Mangkurat, dan kembali ke titik nol kilometer.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel, Fadjar Majardi, membeberkan data terbaru yang menunjukkan penetrasi digitalisasi yang masif. Saat ini, jumlah pengguna QRIS di Kalsel telah menyentuh angka 832.000 pengguna, disokong oleh jaringan ekosistem sebanyak 560.000 merchant.
“Pertumbuhan transaksi digital melalui QRIS terus meningkat. Kami akan terus mendorong perluasan penggunaan QRIS agar pemanfaatannya semakin luas di Kalimantan Selatan,” tegas Fadjar.
Menurut data BI, total transaksi QRIS di provinsi ini telah menembus 24,7 juta transaksi. Angka ini menunjukkan bahwa metode pembayaran digital tidak lagi menjadi barang baru bagi warga Banua, melainkan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Pemerintah daerah menilai keberhasilan Banua QRIStival terletak pada strateginya yang cair. Edukasi transaksi finansial tidak lagi disampaikan secara kaku, melainkan dikemas melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Beberapa agenda yang siap memeriahkan sisa festival antara lain lomba band musik tradisional kontemporer Kalsel, lomba tari kreasi daerah, kompetisi permainan tradisional, hingga fashion show kain sasirangan khas Banjar. Fadjar menambahkan bahwa festival ini didesain untuk memperkuat literasi keuangan digital masyarakat jelata hingga pelaku UMKM.
Metode pembayaran QRIS kini dinilai krusial bagi perekonomian daerah karena menawarkan tiga keunggulan utama. Pertama, praktis dan cepat, memangkas waktu transaksi operasional ritel. Kedua, universal, cukup satu kode matriks untuk semua aplikasi pembayaran digital. Ketiga, aman, meminimalisasi risiko peredaran uang palsu dan kejahatan konvensional.
Fadjar berharap kegiatan ini dapat mendukung percepatan transformasi digital sistem pembayaran sekaligus memperluas ekosistem transaksi non-tunai di Kalsel. Melalui kolaborasi seni, olahraga, dan teknologi, BI dan Pemprov Kalsel optimistis target digitalisasi penuh di sektor riil dapat tercapai lebih cepat.