BANJARMASIN — Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan ini berhasil mencatatkan namanya dalam indeks kerukunan nasional. Posisi ke-13 sebagai kota toleran di Indonesia menjadikan Banjarmasin sebagai salah satu destinasi utama bagi para perantau dan pencari kerja dari luar daerah.
Faktor utama yang mendorong predikat ini adalah tingginya tingkat toleransi antarwarga. Interaksi sosial yang harmonis antara berbagai latar belakang suku dan agama dinilai menjadi fondasi utama.
“Kondisi sosial yang relatif kondusif menjadi modal dasar kami,” ujar seorang pejabat dari Pemkot Banjarmasin dalam keterangan resminya. Iklim ini membuat proses adaptasi bagi pendatang baru berlangsung lebih cepat dan minim gesekan.
Kota berjuluk Seribu Sungai ini tak hanya menjadi tempat transit, tetapi juga pilihan utama untuk menetap. Banyak warga dari Pulau Jawa, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara yang memilih Banjarmasin sebagai rumah baru.
Para perantau ini terserap di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, jasa, hingga industri rumahan. Keberagaman ini justru memperkaya khazanah budaya lokal tanpa mengurangi nilai-nilai asli masyarakat Banjar.
Arus urbanisasi yang terkendali dan suasana kondusif berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. Pasar terapung, sentra kerajinan, dan pusat kuliner di Banjarmasin menjadi lebih hidup dengan kehadiran tenaga kerja dari luar daerah.
Pemkot Banjarmasin terus mendorong program integrasi sosial, seperti kegiatan gotong royong antar-RT dan forum kerukunan umat beragama. Langkah ini dinilai efektif menjaga stabilitas sosial di tengah mobilitas penduduk yang tinggi.
Pemerintah kota berencana memperkuat program-program kebudayaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Targetnya, Banjarmasin bisa naik peringkat ke posisi 10 besar pada tahun depan.
Dengan modal sosial yang kuat, Banjarmasin optimistis bisa terus mempertahankan statusnya sebagai kota yang ramah bagi semua kalangan. Ke depannya, sinergi antara warga lokal dan pendatang akan terus dijaga melalui berbagai forum musyawarah.