BANJARBARU — Kelompok bahan bakar mineral tetap mendominasi kinerja ekspor Kalimantan Selatan. Pada Agustus 2026, komoditas tersebut menyumbang US$876,94 juta atau 81,81 persen dari total ekspor daerah.
Kendati menjadi penopang utama, ekspor bahan bakar mineral turun 4,16 persen dibanding Juli 2026 yang mencapai US$915,01 juta. Kepala BPS Kalsel, Mukhamad Mukhanif, menyebut kelompok ini masih menjadi penyumbang terbesar ekspor daerah.
Lemak dan Minyak Nabati Jadi Penopang Kedua
Kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati menempati posisi kedua dengan nilai US$143,38 juta. Berbeda dengan bahan bakar mineral, komoditas ini justru naik 12,60 persen dibanding bulan sebelumnya.
"Kontribusinya terhadap total ekspor Kalsel mencapai 13,38 persen," kata Mukhanif.
Tiga kelompok komoditas lain turut menyumbang ekspor, yakni kayu dan barang dari kayu 1,50 persen, besi dan baja 0,99 persen, serta aneka produk kimia 0,94 persen.
Impor Melonjak 74,61 Persen, Didominasi Bahan Bakar Mineral
Nilai impor Kalimantan Selatan pada Agustus 2026 tercatat US$144,85 juta. Angka ini melonjak 74,61 persen dibanding Juli 2026 sebesar US$82,96 juta.
Dibanding Agustus 2025, impor juga naik 26,85 persen dari sebelumnya US$114,19 juta. Bahan bakar mineral mendominasi dengan nilai US$127,44 juta atau 87,98 persen dari total impor.
Kelompok kapal, perahu, dan struktur terapung menyumbang US$5,07 juta atau 3,50 persen. Disusul reaktor nuklir, ketel, mesin dan peralatan mekanis sebesar US$4,30 juta atau 2,97 persen.
"Kelompok perabotan dan perlengkapan tidur tercatat sebesar US$3,55 juta, sedangkan bahan kimia organik mencapai US$1,50 juta," kata Mukhanif.
Pelabuhan Kotabaru Jadi Pintu Impor Terbesar
Berdasarkan pelabuhan, impor terbesar melalui Pelabuhan Kotabaru dengan nilai US$110,80 juta. Berikutnya Pelabuhan Banjarmasin US$22,32 juta dan Pelabuhan Batulicin US$11,68 juta.
Data BPS Kalsel menunjukkan penurunan ekspor Agustus 2026 terjadi di tengah meningkatnya nilai impor, terutama pada kelompok bahan bakar mineral. Perkembangan ekspor dan impor menjadi indikator penting untuk melihat dinamika perdagangan luar negeri Kalimantan Selatan.