JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan memiliki ruang penguatan pada kisaran Rp17.920 hingga Rp17.970 per dolar AS pada perdagangan awal pekan ini. Proyeksi ini disampaikan Analis Bank Woori Saudara Rully Nova yang melihat adanya tekanan terhadap dolar AS dari dua sisi sekaligus.
Dua Faktor Global Dorong Penguatan Rupiah
Menurut Rully, pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh yang bernada dovish menjadi katalis utama pelemahan dolar. Pasar menafsirkan sikap hati-hati The Fed terhadap inflasi AS ke depan sebagai sinyal pembatalan kenaikan suku bunga tahun ini.
“Rupiah pada perdagangan hari ini memiliki ruang penguatan pada kisaran di Rp17.920-Rp17.970 dipengaruhi oleh faktor global melemahnya index dollar seiring dengan pernyataan Gubernur The Fed yang dovish menggiring ekspektasi pasar atas pembatalan kenaikan suku bunga tahun ini dan harga minyak yang terus turun,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Faktor kedua adalah penurunan harga minyak dunia yang berkelanjutan. Kondisi ini mengurangi tekanan inflasi global dan turut mendorong pelemahan dolar.
Data Tenaga Kerja AS Semakin Mengkhawatirkan
Rully menambahkan, kondisi data tenaga kerja AS justru menjadi kekhawatiran baru bagi The Fed. Data nonfarm payroll (NFP) AS untuk Juni tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar, mengindikasikan perlambatan ekonomi yang lebih dalam dari perkiraan sebelumnya.
Akibatnya, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun dari 67 persen menjadi 63 persen. Sebelumnya, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober mencapai 82 persen. Optimisme terhadap perkembangan geopolitik global juga turut menekan dolar.
Faktor Domestik: Defisit Neraca dan Cadangan Devisa Masih Membebani
Meski ada sentimen positif dari global, Rully mengingatkan bahwa faktor domestik masih menjadi pemberat penguatan rupiah. Data-data ekonomi nasional seperti ruang fiskal, defisit neraca perdagangan, dan posisi cadangan devisa menjadi catatan yang perlu diwaspadai.
“Dari domestik, masih menjadi faktor pemberat bagi penguatan rupiah terkait data-data ekonomi antara lain ruang fiskal, defisit neraca perdagangan, dan cadangan devisa,” ungkap dia.
Pembukaan Melemah, Namun Diprediksi Berbalik Menguat
Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah sempat melemah 29 poin atau 0,16 persen menjadi Rp17.992 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.963 per dolar AS. Namun, analis memperkirakan tekanan ini hanya sementara dan rupiah berpotensi berbalik menguat seiring sentimen global yang berkembang sepanjang hari.