BARABAI — Sultan Banjar menegaskan bahwa rumah adat bukan sekadar bangunan fisik. Menurutnya, Rumah Adat Banjar Tangga Karamat 159 adalah lambang jati diri yang kini memiliki nilai tambah nyata sebagai pusat pengabdian dan pengobatan alternatif bagi masyarakat sekitar.
"Bagi Kesultanan Banjar, sebuah rumah adat bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah lambang jati diri, tempat budaya dipelihara, dan nilai-nilai kemanusiaan diwariskan," ujar Sultan Haji Pangeran Khairul Saleh di Barabai.
Mengapa Rumah Adat Ini Juga Difungsikan Sebagai Klinik?
Kesultanan Banjar memberikan apresiasi tinggi kepada Sayyid Muhammad Ibrahim (Kai Ahim) dan keluarga besarnya yang mengelola tempat ini. Sultan menilai tindakan Kai Ahim sebagai bentuk pengabdian nyata yang membuka harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan kesembuhan.
"Beliau (Kai Ahim) melihat tempat ini bukan sekadar wadah untuk berobat, melainkan sarana untuk menumbuhkan harapan, memperkuat semangat hidup, dan menghadirkan kepedulian sosial," kata mantan Bupati Banjar dua periode ini.
Sultan mengutip hadits riwayat Ath-Thabrani, "Khairun-nasi anfa'uhum linnas," yang menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap berserah diri kepada Sang Pencipta. Seluruh upaya pengobatan merupakan ikhtiar manusia, sedangkan kesembuhan yang hakiki sepenuhnya datang dari Allah SWT, sesuai dengan Al-Qur'an Surah Asy-Syu'ara ayat 80.
Pesan Perdamaian di Tanah Kalimantan
Momentum peresmian ini juga dimanfaatkan Sultan untuk menyuarakan pesan persatuan. Ia menegaskan bahwa Banua Banjar merupakan rumah bersama bagi berbagai suku, termasuk Banjar dan Dayak, untuk hidup berdampingan secara harmonis.
"Banjar dan Dayak bukanlah dua sejarah yang berjalan sendiri-sendiri. Kita adalah dua akar yang tumbuh pada tanah Kalimantan yang sama," tegas Sultan yang juga anggota DPR RI ini.
Sultan mengajak seluruh elemen masyarakat memegang teguh semboyan Kesultanan Banjar, yaitu "Baiman, Bauntung, Batuah" — menjadi masyarakat yang beriman, senantiasa memberikan manfaat bagi sesama, serta mampu membawa keberkahan bagi Banua.
Pasien Semua Penyakit Dilayani dengan Biaya Sukarela
Kai Ahim mengatakan, pengobatan alternatif tersebut dibuka untuk melestarikan budaya dan adat lokal, terutama Minyak Waras Borneo. Bentuk tempat pengobatan sengaja dibuat seperti rumah Banjar dan diberi nama Rumah Adat Banjar Tangga Karamat 159.
Pihaknya menerima pasien semua penyakit, baik medis maupun non medis dengan niat menolong sesama secara tulus. "Untuk masyarakat yang ingin berobat, kami selalu terbuka dan biaya tidak memberatkan, sukarela," ujarnya.
Acara peresmian dirangkai dengan hiburan Musik Banjar, Kesenian Tradisional Banjar Main Kuntaw, Baledang, Tarian Adat Dayak oleh DPP Ragam Budaya Kalimantan, Sholawat bersama, hambur beras kuning, serta prosesi sakral lainnya.