TANAH LAUT — Kepala Desa Tirta Jaya, Dardiansyah, menuturkan bahwa riwayat kampungnya berawal dari perpindahan warga Jawa Timur yang kehilangan tempat tinggal. "Dahulu warga berasal dari Jawa Timur, kemudian dipindahkan ke Kalsel setelah terdampak bencana letusan Gunung Semeru. Dari perjalanan itulah, sejarah Desa Tirta Jaya bermula," ujarnya, Selasa (27/10).
Rombongan pertama mulanya ditempatkan di kawasan Desa Ketapang, Kecamatan Bajuin. Tanah itu masih asing bagi mereka. Bekal utama yang tersisa hanyalah kemauan memulai hidup dari nol.
Seiring bertambahnya penduduk dan tumbuhnya aktivitas ekonomi, kawasan permukiman itu berkembang. Pemerintah kemudian menetapkan statusnya sebagai desa definitif.
Para tokoh masyarakat lantas bermusyawarah mencari nama yang mewakili harapan warga. Kesepakatan jatuh pada Tirta Jaya, nama yang bertahan sebagai identitas kampung hingga kini.
Dardiansyah menjelaskan, pilihan nama itu menyimpan doa soal air dan kesejahteraan. "Nama Tirta Jaya berarti air yang berkecukupan. Harapannya, masyarakat dapat hidup sejahtera dan kebutuhan hidupnya tercukupi di tempat yang baru," katanya.
Desa Tirta Jaya sekarang mencakup wilayah sekitar 550 hektare. Kawasan itu terbagi menjadi dua dusun dan 12 rukun tetangga.
Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Tanah Laut. Posisi itu membuat Tirta Jaya tergolong strategis di lingkup Kecamatan Bajuin.
Warga Tirta Jaya mayoritas beragama Islam. Namun pemeluk Kristen, Katolik, Hindu, dan Khonghucu juga menetap di sana.
Kerukunan antarumat berjalan tanpa gesekan berarti. Kehidupan majemuk itu menjadi ciri lain kampung yang lahir dari tragedi bencana.
Bagi generasi penerus, Tirta Jaya bukan lagi sekadar tanah rantau. Kampung ini adalah rumah yang dibangun ulang dari sisa kehilangan.