Gubernur Kalimantan Selatan memerintahkan tiga rumah sakit di Banjarmasin memprioritaskan penanganan korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa. Hingga Senin pagi, tim SAR gabungan mengevakuasi 113 orang — 107 selamat dan 6 meninggal dunia — sementara 130 penumpang lain masih dalam pencarian. Jasa Raharja menjamin biaya perawatan maksimal Rp20 juta per korban di RSUD Ulin, RS TPT, dan RS Sultan Suryansyah.
BANJARMASIN — Perintah Gubernur Kalimantan Selatan itu menyasar RSUD Ulin, RS TPT, dan RS Sultan Suryansyah, tiga fasilitas kesehatan yang menampung korban selamat dari kapal nahas rute Surabaya–Banjarmasin tersebut. Sebagian penumpang yang dievakuasi dibawa ke Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, tempat keluarga korban berkumpul menanti kabar sejak Minggu dini hari.
KM Virgo Transport 8 berangkat dari Pelabuhan Surabaya pada Sabtu 12 September 2026 pukul 10.33 WIB dengan total 243 penumpang. Kapal dilaporkan hilang kontak di perairan Masalembo pada Minggu 13 September 2026 pukul 02.00 WITA.
Menurut kesaksian penumpang selamat, kapal tiba-tiba miring cepat ke kiri tanpa alarm atau pemberitahuan sebelum akhirnya tenggelam. Diduga kapal dihantam ombak setinggi lebih dari 2 meter akibat cuaca buruk.
Direktur Utama PT Jasa Raharja Muhammad Awaluddin turun langsung ke lapangan memastikan proses pendataan dan verifikasi berjalan cepat. Jasa Raharja memastikan santunan meninggal dunia sebesar Rp50 juta akan diserahkan kepada ahli waris yang sah.
Untuk korban luka yang menjalani perawatan, Jasa Raharja menjamin biaya perawatan maksimal Rp20 juta per korban di tiga rumah sakit yang ditunjuk. Skema ini berlaku bagi penumpang yang terdata dalam manifes kapal.
Kepala Basarnas mengonfirmasi bahwa data korban masih bisa berubah karena operasi pencarian belum selesai. Angka 113 orang yang dievakuasi merupakan posisi per Senin pagi, terdiri dari 107 selamat dan 6 meninggal dunia.
Basarnas mengerahkan 15 armada laut dan udara dari unsur gabungan untuk mempercepat pencarian 130 penumpang yang belum ditemukan. Rinciannya: 11 kapal, 1 helikopter, dan 3 pesawat.
Unsur yang terlibat antara lain KN SAR Laksamana (Basarnas), KRI Nala (TNI Angkatan Laut), KN Kunyit (Distrik Navigasi), TB Mahausaha 9, TB TCP, MP Haida, kapal dari Pelindo, dan 3 kapal Polri. Sebagian korban dievakuasi ke Pelabuhan Tuban, Jawa Timur, sebagian lain ke Pelabuhan Trisakti.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah akan menginvestigasi kecelakaan ini secara menyeluruh melalui Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Investigasi bertujuan memastikan penyebab kecelakaan secara objektif sebagai dasar evaluasi dan pencegahan kejadian serupa.
Antrean keluarga korban di Pelabuhan Trisakti menjadi titik kumpul utama penantian kabar dari Kalimantan Selatan. Petugas posko mengarahkan keluarga untuk menunggu data resmi dari Basarnas dan Jasa Raharja, bukan dari informasi yang beredar di grup pesan singkat.
Pemerintah daerah meminta rumah sakit menyiapkan ruang perawatan tambahan jika jumlah korban selamat bertambah. Koordinasi lintas provinsi antara Kalimantan Selatan dan Jawa Timur berjalan untuk mempercepat identifikasi dan pemulangan jenazah.
Hingga Senin siang, operasi SAR masih berlangsung di perairan Masalembo. Pembaruan data korban akan diumumkan secara berkala oleh Basarnas dan Kementerian Perhubungan.
| Rute | Surabaya – Banjarmasin |
| Total penumpang | 243 orang |
| Berangkat | Sabtu, 12 September 2026, 10.33 WIB dari Pelabuhan Surabaya |
| Hilang kontak | Minggu, 13 September 2026, 02.00 WITA di perairan Masalembo, Laut Jawa |
| Selamat (dievakuasi) | 107 orang |
| Meninggal dunia | 6 orang |
| Masih dalam pencarian | 130 orang |
| Armada SAR | 15 unit (11 kapal, 1 helikopter, 3 pesawat) |
Sebagian penumpang yang dievakuasi dibawa ke Pelabuhan Tuban, Jawa Timur, sebagian lain ke Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin — tempat keluarga korban berkumpul menanti kabar.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab kecelakaan.
Data korban masih dapat berubah karena proses pencarian masih berlangsung.