KALIMANTAN SELATAN — Film ini menyoroti babak kelam sejarah Amerika Serikat ketika pemerintah federal meluncurkan Native American Relocation Program pada dekade 1950-an. Program tersebut memindahkan penduduk asli Amerika dari reservasi pedesaan ke kota-kota besar seperti Los Angeles dengan janji pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
How We Stand mengikuti perjalanan Angela, seorang ibu tunggal yang pindah dari Oklahoma ke Los Angeles. Karakter ini diperankan oleh Cara Jade Myers, yang sebelumnya dikenal lewat perannya di Killers of the Flower Moon.
Harapan Angela untuk memulai hidup baru berubah menjadi mimpi buruk. Ia dan ketiga putrinya menghadapi kemiskinan ekstrem, rasisme, seksisme, hingga kekerasan yang berakar pada kebijakan pemerintah AS yang berupaya menghapus budaya penduduk asli.
Ketiga putri Angela diperankan Amber Midthunder sebagai Jessie, Alyssa Wapanatâhk sebagai Miranda, dan Isabel DeRoy-Olson sebagai Janey. Mereka berlindung di komunitas penduduk asli di kawasan yang disebut "the tombs" — saluran sungai yang disemen di Los Angeles.
Tragedi kekerasan kemudian memisahkan mereka. Ketiganya tumbuh di panti asuhan berbeda sebelum dipertemukan kembali di Los Angeles era 1970-an dalam adegan banjir yang dramatis.
How We Stand diadaptasi dari pertunjukan teater satu orang karya Clements berjudul Tombs of the Vanishing Indian. Naskah itu awalnya dipesan oleh program Native Voices di Autry Museum of the American West, Los Angeles.
Dalam film ini, Clements memadukan realisme magis dan tradisi bercerita penduduk asli untuk menggambarkan kehancuran budaya akibat kebijakan resettlement. Ia tidak segan membuat penonton merasa tidak nyaman saat menantang versi resmi sejarah Amerika.
"Sejarah kami tidak nyaman dan saya pikir kebenaran memang tidak nyaman, dan menyaksikan kebenaran itu juga tidak nyaman jika kamu tidak mengetahuinya," ujar Clements kepada The Hollywood Reporter.
"Ada sesuatu yang kuat dalam melihat pengalaman kami tercermin di layar," tambahnya.
Clements secara efektif menyerang mitos historis Vanishing Indian — keyakinan penjajah di AS dan Kanada bahwa penduduk asli ditakdirkan menghilang seolah-olah secara magis.
"Menghilang bagi penduduk asli bukanlah hal magis. Itu kadang sangat kejam dan dilakukan oleh kebijakan pemerintah yang tidak magis," tegasnya.
Setelah tumbuh dewasa, Miranda yang aktivis terlibat dalam syuting film koboi yang memparodikan penduduk asli. Janey yang tertekan berhadapan dengan aparat yang salah membaca traumanya. Sementara Jessie menjadi dokter bersama suaminya di klinik komunitas yang terlibat sterilisasi massal perempuan penduduk asli.
"Saya pikir ini pengingat bagus bagi kita untuk melihat sejarah dan bertanggung jawab atas keputusan yang bukan milik kita secara pribadi, tetapi mewakili masyarakat kita," kata Clements soal klimaks dramatis pertemuan ketiga saudari itu.
Selain nama-nama utama, How We Stand juga dibintangi Darren Mann, Eric Johnson, Gary Farmer, Gil Bellows, Mary Walsh, Evan Adams, dan Tonantzin Carmelo.
Clements memproduksi film ini bersama Christine Haebler, Trish Dolman, dan Steven Thibault. Mark Slone dan Kirk D'Amico menjabat sebagai executive producer.
Bagi Clements, latar 1970-an menjadi periode yang memikat karena gelombang tuntutan hak asasi manusia, hak perempuan, hak kulit hitam, dan hak penduduk asli sedang bergolak.
"Saya selalu merasa itu dekade yang luar biasa menarik, dan saya agak berharap bisa sepenuhnya berada di sana, karena begitu banyak seruan untuk hak asasi manusia, hak perempuan, hak kulit hitam, hak penduduk asli, dan semuanya sedang mendidih," ujarnya.
Toronto International Film Festival tahun ini berlangsung pada 10-20 September. How We Stand menjadi salah satu judul yang menyoroti narasi penduduk asli di panggung festival film internasional.