KALIMANTAN SELATAN — Menurut laporan CarNewsChina yang dikutip Warta Ekonomi, rekrutmen besar-besaran ini terpusat di Zona Kerja Sama Khusus Shenshan. Sebagian besar lowongan berasal dari pabrik perakitan Xiaomo yang membutuhkan 4.800 pekerja, termasuk teknisi pelat logam dan tenaga pelapis interior. Sementara di pabrik komponen Ebu, Divisi 15 membutuhkan 2.000 operator produksi dan tukang las.
Setelah mencatat ekspor 1,05 juta unit pada 2025, BYD menargetkan angka 1,5 juta unit hingga akhir 2026. Pada paruh pertama 2026 saja, ekspor sudah mencapai 789.400 unit, naik 70% secara tahunan. Lonjakan ini mendorong perusahaan menambah kapasitas produksi dengan merekrut ribuan tenaga kerja baru.
BYD menerapkan sistem penggajian berdasarkan tingkat keahlian dan jenis pekerjaan. Di Divisi 15 Xiaomo, tersedia 1.200 posisi untuk operator perakitan, teknisi pengelasan, dan teknisi busa. Sementara di Ebu, 2.000 pekerja tambahan dibutuhkan untuk operator produksi dan penyetel mesin.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi global BYD. Di Brasil, pabrik lokal telah memproduksi 100.000 kendaraan energi baru dan mempekerjakan lebih dari 5.500 orang. Di Hungaria, pabrik mobil penumpang pertama BYD di Eropa masih dibangun dan diproyeksikan menjadi pusat produksi utama kawasan tersebut.
Di Thailand, pabrik Rayong telah beroperasi penuh memproduksi lima model: Dolphin, Atto 3, Seal 5 DM-i, Sealion 5 DM-i, dan Sealion 6 DM-i. Dengan kapasitas produksi global yang terus bertambah, BYD semakin agresif mengejar posisi sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia.
Rekrutmen 9.000 tenaga kerja ini sekaligus menegaskan bahwa BYD tidak berniat memperlambat laju ekspansi, meskipun persaingan kendaraan listrik global semakin ketat.