BANJARMASIN — Program inkubasi musik tradisi MTN Lab x Lab Batang Banyu Gawi Sabumi 2026 memasuki puncak acara bertajuk MTN Presentasi. Panggung Bakhtiar Sanderta, Taman Budaya Kalsel, menjadi saksi penampilan 25 talenta muda yang telah melalui proses pembinaan sejak tahun lalu.
Kelima kelompok peserta berasal dari Kabupaten Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Kota Banjarmasin. Mereka terpilih dari sekitar 200 peserta yang sebelumnya mengikuti program MTN Asah Bakat.
Kepala Program Lab Batang Banyu, Novyandi Saputra, menjelaskan bahwa MTN Presentasi merupakan tahapan lanjutan dari pembinaan yang telah dimulai pada tahun sebelumnya. Tahun ini, pihaknya kembali menjaring hampir 200 bibit baru untuk mengikuti proses serupa pada periode berikutnya.
“Regenerasi terus berjalan. Dengan sistem pembinaan yang berjenjang, kami optimistis keberlangsungan musik tradisi Kalimantan Selatan akan semakin terjaga,” kata Novyandi.
Tim Ahli MTN Seni Budaya Bidang Musik, Aristofani Fahmi, menilai Kalimantan Selatan telah memiliki identitas musik tradisi yang kuat. Namun, ia menekankan perlunya pendekatan kreatif untuk mengembangkan estetika baru.
“Kalimantan Selatan harus mampu menghadirkan estetika baru. Tradisi yang sudah ada perlu terus diolah melalui eksperimen agar melahirkan identitas musik yang semakin khas,” ujar Aristofani.
Menurutnya, kolaborasi dan eksperimen menjadi jalan untuk melahirkan karakter musikal baru tanpa meninggalkan akar tradisi. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah sebagai fasilitator dan komunitas sebagai penggerak utama.
Sebagai tindak lanjut ruang inkubasi ini, penyelenggara tengah bersiap menggelar Antasan Banjar edisi kedua pada September 2026. Acara tersebut didukung oleh Pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Provinsi Kalsel.
Agenda itu diharapkan menjadi panggung lanjutan bagi para talenta untuk memperkenalkan karya sekaligus memperkuat pemajuan kebudayaan di bidang musik tradisi.
Aristofani optimistis, jika pola pembinaan dilakukan konsisten selama beberapa tahun, karya musik tradisi Kalimantan Selatan mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk tingkat internasional.