KALIMANTAN SELATAN — Tesla akhirnya menjawab permintaan pasar akan SUV listrik yang lebih terjangkau. Namun, jawaban itu datang dengan konsekuensi yang tidak biasa. Varian entry-level Model Y yang sempat dinamai Standard (kini kembali disebut Model Y saja) hadir dengan harga Rp 666 juta, lebih murah Rp 80 juta dibanding varian Premium RWD (sebelumnya Long Range RWD) yang dibanderol Rp 746 juta.
Pengorbanan paling mendasar ada pada sektor kelistrikan. Kapasitas baterai dipangkas menjadi 70 kWh, turun dari paket baterai varian Premium. Hasilnya, jarak tempuh EPA untuk varian RWD dengan velg 18 inci mencapai 321 km — turun 36 km dari Premium RWD yang bisa menembus 357 km.
Kecepatan pengisian daya di Supercharger juga berkurang dari 250 kW menjadi 225 kW. Meski begitu, akselerasi 0-96 km/jam tetap kompetitif: 5,9 detik untuk RWD dan 4,4 detik untuk AWD versi dasar yang kami uji di sirkuit.
Masuk ke kabin, perbedaan paling mencolok adalah langit-langit. Alih-alih mengganti panel kaca panoramik dengan logam, Tesla memilih menutup kaca tersebut dengan headliner dan material peredam suara. Solusi ini dianggap lebih hemat biaya produksi dibanding mendesain ulang struktur atap.
Kursi depan kehilangan ventilasi dan kontrol samping yang kini dipindah ke layar sentral. Jok belakang tidak lagi berpemanas, dan layar 8,0 inci untuk penumpang belakang dihapus. Sistem audio hanya menyisakan 7 speaker tanpa subwoofer, dan filter HEPA juga tidak disertakan.
Tidak semua perubahan bersifat mengurangi. Setir kemudi kini dapat disetel secara manual dan — yang lebih penting — tuas sein fisik kembali hadir, menggantikan tombol sentuh yang sempat menuai kritik. Konsol tengah mengadopsi desain ala Cybertruck dengan baki besar dan pengisi daya perangkat yang lebih tinggi.
Kursi berbahan tekstil menggantikan sebagian vegan leather. Meski terasa lebih sederhana, material ini justru lebih nyaman di iklim tropis karena tidak menyerap panas berlebih.
Dari luar, varian termurah ini mudah dikenali dari light bar depan yang hilang. Lampu utama kini merangkap semua fungsi — sein, low beam, dan high beam — dalam satu rumah lampu yang lebih ramping. Velg standar berukuran 18 inci, naik ke 19 inci sebagai opsi.
Pilihan warna dibatasi hanya tiga: putih, hitam, dan abu-abu. Biru yang sempat tersedia dihapus dari palet beberapa hari sebelum peluncuran. Tesla beralasan perubahan ini untuk menyederhanakan rantai pasok demi menjaga harga tetap rendah.
Meski kehilangan peredam adaptif frekuensi yang ada di varian Premium, kenyamanan berkendara justru mengejutkan. Material peredam suara tambahan di atap berhasil meredam kebisingan angin dan jalan. Di jalan tol dengan kecepatan 120 km/jam, kabin tetap senyap — sebuah pencapaian mengingat beberapa kaca laminasi akustik diganti dengan kaca biasa.
Handling terasa stabil berkat pusat gravitasi rendah dari baterai di lantai. Namun, akselerasi dari 0-60 km/jam terasa lebih linier dibanding varian Premium yang lebih agresif. Untuk pengemudi harian yang tidak mengejar performa ekstrem, karakter ini justru lebih bersahabat di lalu lintas perkotaan.
Tesla Model Y entry-level 2026 mulai dipasarkan di Amerika Serikat dan Eropa. Untuk pasar Indonesia, belum ada konfirmasi kapan varian ini akan hadir secara resmi melalui jalur impir.