TAPIN — Di balik mulut Gua Baramban yang selama ini dikenal warga, terdapat lorong yang membuka akses ke dunia lain. Formasi batuan, aliran air bawah tanah, dan keheningan yang nyaris sempurna menyambut siapa pun yang berani masuk lebih dalam.
Berbeda dengan ruang utama gua yang kerap dijadikan lokasi wisata atau penelitian, lorong ini disebut memiliki karakteristik unik. Vegetasi di sekitarnya tumbuh tanpa gangguan, dan jejak manusia hampir tak ditemukan.
Warga setempat menyebut lorong tersebut sudah ada sejak lama, namun jarang dijelajahi karena medan yang menantang. “Ini bukan gua biasa. Struktur di dalamnya berbeda,” ujar seorang pemandu lokal yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi lorong yang lembap dan minim cahaya menciptakan habitat bagi sejumlah spesies endemik. Kelelawar dan serangga khas gua menjadi penghuni tetap di sana.
Belum ada penelitian ilmiah resmi yang mendokumentasikan lorong ini secara detail. Namun, potensi keanekaragaman hayati di dalamnya dinilai cukup tinggi oleh pegiat lingkungan setempat.
Untuk mencapai lorong, pengunjung harus melewati jalur setapak berbatu sepanjang sekitar 500 meter dari mulut gua utama. Tidak ada penerangan buatan di sepanjang jalan.
Perjalanan memakan waktu 20-30 menit dengan hati-hati. “Kami sarankan bawa senter dan sepatu anti-selip. Licin,” tambah pemandu yang sama.
Pemerintah Desa Baramban belum memiliki rencana khusus untuk mengembangkan lorong ini sebagai destinasi wisata. Saat ini, fokus utama masih pada pengelolaan Gua Baramban sebagai objek wisata alam umum.
Namun, beberapa warga berharap lorong tersebut bisa dikaji lebih lanjut. “Kalau aman, ini bisa jadi daya tarik baru. Asal tetap jaga kelestariannya,” kata seorang tokoh pemuda desa.