TANAH BUMBU — Program Pemberdayaan Peternakan Sapi Berkelanjutan Terintegrasi Perkebunan Kelapa Sawit dengan Kehutanan dan Pertanian (P2SHP) yang dikembangkan PT Buana Karya Bhakti di Satui kini menjadi percontohan nasional. Dalam satu dekade terakhir, populasi sapi di lokasi itu melonjak dari 300 ekor pada 2016 menjadi hampir 1.500 ekor melalui sistem pembiakan alami.
Wamenko Hanif Faisol Nurofiq menilai model integrasi ini punya potensi besar memperkuat ketahanan pangan hewani nasional. "Kehadiran sapi di perkebunan sawit membantu menekan biaya pembersihan gulma hingga 50–70 persen sekaligus meningkatkan kesuburan tanah dari kotoran ternak," ujarnya saat meninjau lokasi.
Ranch Manager PT Buana Karya Bhakti, Wahyu Darsono, mengungkapkan perusahaan memulai program pada 2016 dengan investasi sekitar Rp6 miliar untuk pengadaan 300 ekor sapi berikut infrastruktur pendukung. Kini, sistem pembiakan alami berhasil memperbanyak populasi tanpa perlu impor bibit.
Manfaat ganda pun dirasakan perusahaan. Selain pasokan pupuk organik dari kotoran sapi, biaya perawatan kebun kelapa sawit berkurang drastis karena ternak secara alami memakan gulma di bawah pohon.
Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menyatakan komitmen mendukung kebijakan pusat dalam mewujudkan kawasan swasembada pangan, energi, dan air. Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Eryanto Rais mengatakan potensi sumber daya alam di daerah itu perlu dikelola secara terpadu.
"Kami siap berkolaborasi, serta mendukung berbagai langkah strategis yang akan dirumuskan demi keberhasilan program ini," ucap Eryanto mewakili Bupati Andi Rudi Latif.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan, Suparmi, menyebut program integrasi sawit-sapi di PT Buana Karya Bhakti telah ditetapkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian sebagai role model nasional. Status ini menjadikan Tanah Bumbu sebagai rujukan bagi daerah lain yang ingin mengadopsi sistem serupa.
Kawasan KSPEAN Kalimantan Selatan sendiri mencakup area di Kecamatan Satui yang dirancang untuk mengintegrasikan sektor pangan, energi, dan air secara berkelanjutan. Kunjungan Wamenko menjadi sinyal penguatan dukungan pusat terhadap program berbasis peternakan dan perkebunan di daerah.