Warga Desa Pambusuang Sulbar Sulap Kampung Nelayan Jadi "Kampung Piala Dunia" Demi Rayakan Turnamen Global

Penulis: Arif Budiman  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 21:57:31 WIB
Warga Desa Pambusuang mengubah kampung nelayan menjadi "Kampung Piala Dunia" dengan dekorasi mural dan bendera negara peserta.

KALIMANTAN SELATAN — Kampung pesisir yang biasanya sepi kini berubah total. Dinding-dinding rumah nelayan dihiasi mural Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Kylian Mbappe. Jalanan desa dipenuhi bendera 32 negara peserta Piala Dunia 2026 yang terbuat dari kain bekas dan kertas daur ulang. Tak ketinggalan replika trofi setinggi 2 meter berdiri di tengah lapangan desa.

Dana Swadaya dan Gotong Royong Wujudkan Dekorasi Sepak Bola

Pembuatan "Kampung Piala Dunia" ini murni hasil inisiatif warga. Mereka mengumpulkan dana secara swadaya dan bergotong royong selama dua pekan. Setiap RT mendapat tugas mendekorasi satu blok rumah dengan tema negara peserta tertentu.

"Kami tidak ingin hanya nonton di TV. Biar kampung kami ikut merasakan euforia Piala Dunia," kata salah satu tokoh pemuda setempat saat ditemui di lokasi, kemarin. Warga bahkan membuat jadwal nobar (nonton bareng) di aula desa yang sudah dipasangi proyektor.

Dari Pesisir ke Layar Kaca: Euforia Tanpa Batas

Antusiasme warga Pambusuang tak berhenti pada dekorasi. Setiap malam, puluhan warga berkumpul di aula desa untuk menyaksikan laga-laga Piala Dunia. Mereka membawa tikar, makanan ringan, dan minuman hangat. Suasana semakin meriah saat tim favorit mereka mencetak gol — teriakan dan bunyi terompet menggema hingga ke pesisir.

Beberapa warga bahkan rela begadang demi menyaksikan pertandingan yang tayang dini hari. "Sudah biasa. Yang penting bisa nonton bareng. Lebih seru daripada sendirian di rumah," ujar seorang ibu rumah tangga yang ikut nobar.

Momen Langka di Tengah Keterbatasan

Desa Pambusuang bukanlah daerah dengan akses internet cepat atau televisi berbayar. Namun, semangat warga mengatasi keterbatasan itu. Mereka menggunakan antena parabola kolektif dan saling berbagi paket data untuk streaming pertandingan. "Kami terbiasa gotong royong. Ini cara kami merayakan sepak bola," tambah pemuda tadi.

Fenomena "Kampung Piala Dunia" di Pambusuang menjadi bukti bahwa euforia turnamen global bisa dirasakan di pelosok negeri. Warga pesisir ini membuktikan bahwa sepak bola bukan sekadar tontonan, tapi juga alat pemersatu dan sumber kebahagiaan bersama.

Reporter: Arif Budiman
Sumber: enamplus.liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top