KALIMANTAN SELATAN — Kemenangan di Sirkuit Barcelona-Catalunya bukan sekadar catatan manis pertama Hamilton dengan overall merah. Lebih dari itu, ini adalah pernyataan perlawanan terhadap keraguan yang sempat menggerogoti kepercayaan dirinya. Sepanjang musim debut bersama Ferrari tahun lalu, Hamilton mengaku sempat berpikir mungkin usianya menjadi penghalang untuk tampil kompetitif.
Balapan berubah drastis saat virtual safety car (VSC) muncul. Hamilton mendapat keuntungan pit stop murah yang membuatnya memimpin dari dua pembalap Mercedes, George Russell dan Kimi Antonelli.
Namun, tim Mercedes sendiri mengakui kemenangan Hamilton tidak bergantung pada keberuntungan semata. "Dia akan mengalahkan kami, cepat atau lambat," aku pihak Mercedes. Kecepatan Hamilton dengan ban yang lebih segar membuatnya diyakini mampu menyalip di lintasan andai pun tidak dibantu VSC.
Musim lalu menjadi mimpi buruk bagi Hamilton. Ia menyebut dirinya "sangat tidak berguna" dan bahkan menyarankan Ferrari mencari pembalap lain. Performa buruk itu, menurutnya, sempat membuatnya bertanya-tanya apakah kemampuannya benar-benar hilang seiring bertambahnya usia.
"Setelah tahun seperti musim lalu, ada momen di mana saya berpikir, 'Mungkin benar, ketika kamu sampai di titik tertentu, kamu kehilangan kemampuan itu,'" ujar Hamilton usai balapan. "Tapi saya membuktikan itu tidak benar. Kemampuan itu selalu ada, hanya perlu kerja keras."
Kritik yang diterimanya diakui sempat melukai perasaannya. "Saya hanya manusia. Ada kalanya saya membiarkan komentar itu masuk dan menusuk dalam-dalam," tambahnya. Selama libur musim dingin, Hamilton mematikan media sosial dan fokus pada reset mental serta fisik.
Toto Wolff, prinsipal Mercedes yang pernah enam kali membawa Hamilton juara, menilai kebangkitan ini bukan kebetulan. Menurutnya, regulasi aerodinamis baru tahun ini lebih cocok dengan gaya balap Hamilton dibandingkan mobil era ground-effect kaku yang digunakan sejak 2022.
Wolff juga menyebut faktor personal ikut berperan. "Saya melihat wajahnya di podium. Dia sangat bahagia. Mungkin pacar barunya membantu, seperti halnya pasangan memberi saya kehidupan keluarga yang stabil," ujar Wolff merujuk pada hubungan Hamilton dengan Kim Kardashian. "Ketika sisi emosional, personal, dan profesional berjalan baik, Anda akan menang."
Musim lalu, Hamilton hanya tujuh kali mengungguli rekan setimnya Charles Leclerc dalam sesi kualifikasi dari 24 grand prix. Rata-rata, Leclerc lebih cepat 0,15 detik per lap. Tahun ini, catatan berbalik: Hamilton unggul 6-4 atas Leclerc dalam sesi kualifikasi.
Dengan kemenangan ini, Hamilton menjadi pembalap keempat yang berusia di atas 40 tahun mampu memenangi balapan F1 sejak 1958, bergabung dengan Graham Hill, Jack Brabham, dan Nigel Mansell. Sebuah bukti bahwa usia hanyalah angka selama tekad dan kerja keras tetap menyala.