Penelitian yang dipublikasikan pada 2019 ini melibatkan astronot Scott Kelly dan saudara kembarnya, Mark Kelly, yang juga seorang astronot. Scott menghabiskan 340 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) antara Maret 2015 hingga Maret 2016, sementara Mark tetap di Bumi sebagai kontrol. Sepanjang misi, para ilmuwan memantau perubahan fisiologis dan molekuler pada kedua pria tersebut.
Hasil studi menunjukkan bahwa meskipun kesehatan Scott secara keseluruhan baik, tubuhnya mengalami perubahan signifikan. Ia tumbuh lebih tinggi, kehilangan massa otot—masalah klasik di gravitasi mikro—dan menua lebih lambat lima milidetik dibanding Mark.
Yang paling mencolok terjadi pada tingkat molekuler. Sekitar 7% ekspresi gen Scott—cara gen diaktifkan dan digunakan—berubah selama misi. Lebih mengkhawatirkan lagi, tim peneliti mengidentifikasi 811 gen yang belum kembali ke tingkat pra-penerbangan bahkan enam bulan setelah ia mendarat. Gen-gen tersebut sebagian besar terkait dengan fungsi kekebalan tubuh dan perbaikan DNA.
Salah satu temuan paling tak terduga adalah perubahan pada telomer, yaitu tutup pelindung di ujung kromosom yang terkait dengan penuaan. Telomer Scott justru memanjang selama ia di luar angkasa, sebelum kembali memendek setelah ia kembali ke Bumi. Para ilmuwan mengakui fenomena ini masih belum sepenuhnya dipahami dan membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui implikasinya jangka panjang.
Di sisi lain, kemampuan kognitif Scott justru menurun. Akurasi dan kecepatan dalam tugas-tugas tertentu berkurang dan tidak pulih sepenuhnya setelah kembali. Laporan mencatat bahwa pemanjangan telomer dan penurunan fungsi kognitif merupakan efek samping yang umum terlihat pada astronot.
Penelitian ini menekankan perlunya langkah-langkah perlindungan baru bagi astronot yang menjalani misi lebih lama. Tanpa pemahaman yang lebih dalam tentang perubahan genetik permanen ini, risiko kesehatan bagi awak misi ke Mars—yang diperkirakan memakan waktu tiga tahun—bisa sangat serius.
Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa ini adalah studi pertama yang berfokus pada kembar identik. Diperlukan penelitian tambahan pada lebih banyak subjek untuk memastikan apakah hasil ini bersifat umum atau hanya spesifik pada fisiologi Scott. Badan antariksa AS saat ini tengah merancang studi lanjutan untuk memeriksa perubahan serupa pada astronot lain.