KALIMANTAN SELATAN — Keterlibatan aparat kepolisian dalam rantai pasok pangan ini bukan sekadar formalitas. PS Kanit Binmas Polsek Diwek, Aiptu Suwito, beserta sejumlah anggota turun langsung mendampingi proses pengumpulan jagung dari lahan hingga perjalanan menuju gudang Bulog. Tujuannya: mengantisipasi gangguan keamanan dan kelancaran administrasi yang kerap menjadi momok bagi petani saat mengirim komoditas dalam jumlah besar.
Jagung yang dikirim merupakan hasil panen M. Saifur, petani asal Desa Ballongbesuk, Kecamatan Diwek. Sebelum diangkut, petugas melakukan pemeriksaan kualitas dan penimbangan. Hasilnya, jagung pipil tersebut memiliki kadar air 14 persen dan dibeli Bulog dengan harga Rp 6.400 per kilogram.
Bagi Saifur, angka itu jauh lebih pasti dibandingkan menjual ke tengkulak yang harganya sering berubah. "Selama ini kami kadang ragu mengangkut barang banyak-banyak. Ada kekhawatiran dalam perjalanan atau soal harga yang bisa ditekan. Hari ini dengan dikawal polisi dan diserap Bulog, rasanya lebih pasti. Hasil kerja keras kami dihargai dengan layak," ujarnya.
Kapolsek Diwek, AKP Darul Hudha, menegaskan bahwa pendampingan ini merupakan perpanjangan tangan negara untuk menjaga stabilitas pangan daerah. Menurutnya, tantangan utama petani selama ini bukan hanya soal cuaca, tetapi juga ketidakpastian harga dan akses pasar yang terbatas.
"Polri memandang ketahanan pangan bukan hanya urusan dinas pertanian semata. Ketika hasil panen petani tersalurkan dengan aman dan terserap dengan harga yang layak, maka kesejahteraan masyarakat terjaga dan stabilitas daerah pun terpelihara. Ini selaras dengan Asta Cita pemerintah yang menekankan kemandirian pangan," ujar Darul Hudha.
Ia menambahkan, kehadiran aparat di lapangan diharapkan bisa meminimalkan hambatan keamanan dan administrasi. "Ketika petani merasa aman dan mendapatkan kepastian harga, semangat bertani akan meningkat dan produksi pangan di daerah ini pun ikut tumbuh," katanya.
Perwakilan Perum Bulog Cabang Jombang menyambut baik kolaborasi ini. Pihaknya menilai, kerja sama dengan kepolisian membantu memperlancar penyerapan langsung dari petani, sekaligus memotong rantai perdagangan yang kerap merugikan produsen.
"Semakin lancar penyerapan langsung dari lapangan, semakin terjaga ketersediaan beras dan jagung di gudang kami. Kerja sama dengan aparat keamanan sangat membantu agar pasokan dari petani terus mengalir tanpa hambatan," ungkapnya.
Model pendampingan lintas sektor seperti ini diharapkan bisa berkelanjutan. Di tengah target kemandirian pangan nasional, dukungan dari kepolisian hingga Bulog menjadi jaring pengaman agar petani kecil tidak terjepit di antara biaya produksi yang tinggi dan harga jual yang tidak menentu.