BANJARMASIN — Harga solar non-subsidi yang kini mencapai Rp18 ribu per liter di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) membuat motoris perahu klotok wisata di Banjarmasin kelimpungan. Kenaikan ini terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan langsung berdampak pada biaya operasional harian yang membengkak hingga dua kali lipat.
Para motoris mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk setiap kali berlayar. Sebut saja Ahmad, motoris klotok yang biasa beroperasi di kawasan Pasar Terapung Siring. Ia mengatakan, dalam sehari setidaknya menghabiskan 20 liter solar. Dengan harga Rp18 ribu per liter, biaya bahan bakar mencapai Rp360 ribu per hari.
"Dulu solar masih Rp14 ribuan, masih bisa nafas. Sekarang Rp18 ribu, hasil jualan tiket habis untuk beli solar saja," ujar Ahmad kepada wartawan di Banjarmasin, Senin.
Di sisi lain, tarif sewa perahu klotok untuk wisatawan masih bertahan di kisaran Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per jam tergantung rute. Para motoris mengaku tidak bisa menaikkan tarif karena khawatir jumlah wisatawan yang masih belum pulih pascapandemi akan semakin menurun. Kondisi ini membuat margin keuntungan mereka semakin tipis.
Para motoris berharap Pemerintah Kota Banjarmasin dapat memberikan solusi jangka pendek, seperti subsidi silang atau bantuan solar bersubsidi khusus untuk sektor wisata sungai. Mereka menilai klotok bukan sekadar alat transportasi, melainkan ikon wisata Kota Banjarmasin yang perlu dijaga keberlangsungannya.
"Kami minta ada perhatian dari pemkot. Jangan sampai klotok berhenti beroperasi karena ongkos solar terlalu mahal," tambah Ahmad.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Dinas Perhubungan maupun Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin terkait keluhan para motoris klotok ini. Para pengemudi memilih tetap melayani wisatawan dengan pasrah sembari berharap harga solar segera turun atau ada kebijakan ringan dari pemkot.