BANJARBARU — Angka tersebut terhitung sejak Desember 2025 hingga 30 April 2026, menjadikan Kalimantan Selatan sebagai salah satu daerah dengan kasus penipuan siber yang mengkhawatirkan. Secara nasional, OJK mencatat 549.074 laporan scam dengan kerugian mencapai Rp9 triliun.
Deputi Direktur Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Kalsel, Armansyah, memaparkan program ini dalam audiensi di Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Senin (25/5/2026). Ia didampingi Asisten Direktur Andi Rahman Yuliman.
Armansyah menekankan bahwa edukasi saja tidak cukup. OJK mendorong pembentukan layanan pengaduan di tingkat kecamatan untuk mempercepat penanganan kasus dan meminimalkan munculnya korban baru.
Dalam diskusi, anggota TAG Kalsel memberikan masukan konkret. Tasyriq Usman mengusulkan agar edukasi anti-scam dilakukan melalui televisi, sementara Gusti Muhammad Hatta menyarankan pemanfaatan radio agar informasi dapat menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.
“Kami ingin pesan ini sampai ke warung-warung kopi di kampung, bukan cuma di grup WhatsApp,” ujar Gusti Muhammad Hatta dalam forum tersebut.
Nurul Fajar Desira menambahkan pentingnya koordinasi lintas instansi bersama Dinas Kominfo dan sektor perbankan agar penanganan laporan masyarakat dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
OJK Kalsel mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Beberapa modus yang marak terjadi meliputi phishing, penipuan investasi ilegal, dan social engineering. Masyarakat diminta menjaga kerahasiaan PIN, password, dan kode OTP serta menghindari tautan mencurigakan dari pihak yang tidak dikenal.
Program Banua Waspada Scam dijadwalkan resmi diluncurkan pada Agustus 2026. OJK berharap program ini bisa menjadi tameng kolektif bagi warga Kalimantan Selatan di tengah gempuran penipuan digital yang terus mengintai.