KALIMANTAN SELATAN — Sony Xperia 1 VIII seharusnya menjadi standar baru bagi fotografi profesional di perangkat mobile. Namun, kehadiran fitur "AI Camera Assistant" yang ditenagai Xperia Intelligence justru menuai sentimen negatif di media sosial. Banyak pengguna menilai hasil pemrosesan gambar Sony saat ini terlalu agresif, membuat foto terlihat pucat, kehilangan kedalaman bayangan (shadow), dan tampak tidak natural.
Dalam materi promosi yang dibagikan Sony, terlihat perbedaan signifikan antara foto sebelum dan sesudah diproses oleh AI Camera Assistant. Bukannya memberikan peningkatan detail, AI tersebut justru menaikkan eksposur secara menyeluruh. Hasilnya, foto kehilangan kontras dan warna yang seharusnya memberikan karakter pada gambar.
Fenomena ini disebut oleh banyak pakar teknologi sebagai "final boss" dari tren buruk kamera smartphone modern. Sony dianggap melakukan oversharpening dan penghapusan detail secara aktif demi mengejar foto yang terang di semua sisi. Padahal, kekuatan utama seri Xperia selama ini adalah pendekatan warna yang natural dan menyerupai kamera profesional seri Alpha.
Ironisnya, degradasi kualitas secara visual ini terjadi saat Sony menyematkan perangkat keras yang sangat mumpuni. Xperia 1 VIII dibekali sensor telephoto baru yang ukurannya hampir empat kali lipat lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Secara teori, sensor besar mampu menangkap lebih banyak cahaya dan detail tanpa perlu bantuan algoritma yang berlebihan.
"AI Camera Assistant dengan Xperia Intelligence membantu mewujudkan visi Anda. Fitur ini menyarankan berbagai opsi ekspresif dengan penyesuaian berbeda untuk menciptakan foto yang berkesan," tulis pernyataan resmi Sony mengenai fitur tersebut.
Namun, implementasi di lapangan menunjukkan hasil yang berbeda. Foto yang dihasilkan cenderung terlihat "rata" (flat) karena AI berusaha menyamakan tingkat kecerahan antara subjek dan latar belakang, sebuah masalah yang belakangan juga mulai menghinggapi perangkat Google Pixel melalui fitur "Smart Enhance" di Instagram.
Sony bukan satu-satunya yang terjebak dalam tren ini. Google, yang dulunya dipuji karena kontras dramatis pada seri Pixel awal, kini mulai beralih ke gaya foto yang lebih terang dan minim dimensi. Hal ini berbanding terbalik dengan produsen seperti Oppo melalui Find X9 Ultra atau Motorola Razr Fold yang tetap mempertahankan karakter visual yang tegas.
Bagi pengguna tech-savvy, tren "menerangkan segalanya" ini dianggap membosankan. Foto kehilangan tekstur asli dan terasa seperti hasil olahan digital yang berlebihan. Sony, yang biasanya menjadi benteng terakhir bagi fotografi realistis, kini justru melangkah lebih jauh ke arah pemrosesan gambar yang dianggap memalukan bagi standar mereka.
Di luar kontroversi kameranya, Sony Xperia 1 VIII tetap mempertahankan identitasnya sebagai smartphone untuk para purist dan profesional. Berikut adalah spesifikasi kunci yang ditawarkan:
Sony membanderol Xperia 1 VIII dengan harga mulai dari €1.500 atau jika dikonversi mencapai Rp24,7 juta. Harga ini menempatkannya di segmen ultra-premium, bersaing langsung dengan iPhone 15 Pro Max dan Samsung Galaxy S24 Ultra.
Perangkat ini tetap menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang membutuhkan fitur produktivitas lengkap seperti memori eksternal dan jack audio. Namun, bagi pecinta fotografi yang mengharapkan output natural khas Sony, fitur AI terbaru ini mungkin perlu dinonaktifkan untuk mendapatkan kualitas sensor yang sebenarnya.