BANJARMASIN — Kepala Badan Pengelola Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kota Banjarmasin, Edy Wibowo, mengungkapkan capaian ini pada Senin (13/4). Ia optimistis tren positif ini akan berlanjut ke triwulan kedua, dengan target realisasi mencapai 40 hingga 50 persen hingga akhir tahun.
Dua sektor penyumbang PAD terbesar adalah pajak restoran atau rumah makan, disusul pajak penerangan jalan. Edy menyebut pihaknya terus menggali potensi dari usaha kafe yang kian menjamur di kota ini.
“Sumber PAD terbesar tetap pada sektor pajak restoran/rumah makan, kemudian pajak penerangan jalan,” paparnya.
Meski capaian awal memuaskan, Edy mengakui masih ada tantangan serius di lapangan. Kejujuran wajib pajak (WP) menjadi faktor utama yang menghambat optimalisasi penerimaan.
“Sebenarnya kalau semua WP mau bayar secara jujur, potensi PAD kita bisa mencapai Rp1 triliun,” ucapnya.
Untuk menindaklanjuti hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Pemkot Banjarmasin berkomitmen memperbaiki kinerja dan mengubah pola pengawasan. Bulan depan, tim akan mulai mengimplementasikan hasil evaluasi untuk menutup celah kebocoran potensi pajak.
Edy menekankan fokus ke depan adalah mengubah pola pikir wajib pajak agar sadar akan kewajibannya. Selain itu, seluruh data pemasukan akan dimasukkan ke dalam sistem secara transparan.
“Kita akan gali terus potensinya. Fokus kita ke depan adalah mengubah pola pikir WP agar sadar akan kewajibannya dan memasukkan semua data ke dalam sistem secara transparan,” demikian kata Edy.
Langkah ini diharapkan mampu mendorong realisasi PAD hingga akhir tahun 2026. Dengan perbaikan sistem pengawasan dan edukasi wajib pajak, Pemkot Banjarmasin optimistis target Rp721 miliar dapat terlampaui.