Teknologi AI dan Wearable Kini Mampu Deteksi Dini Risiko Diabetes

Penulis: Benny Surbakti  •  Kamis, 07 Mei 2026 | 22:37:01 WIB
Teknologi AI pada perangkat wearable kini membantu deteksi dini risiko diabetes.

Sebanyak 14 persen orang dewasa di seluruh dunia kini hidup dengan diabetes, namun jutaan kasus tetap tidak terdeteksi hingga terjadi komplikasi serius. Peneliti dari Stanford University dan Imperial College London mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) pada perangkat wearable untuk mendeteksi risiko penyakit lebih dini. Inovasi ini bertujuan mengatasi keterbatasan tes darah konvensional yang sering kali terlambat memberikan diagnosa pada kelompok masyarakat tertentu.

Krisis kesehatan global akibat diabetes telah mencapai titik yang mengkhawatirkan dengan lonjakan penderita dua kali lipat dalam tiga dekade terakhir. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan prevalensi diabetes pada orang dewasa naik dari 7 persen pada 1990 menjadi 14 persen pada 2022. Di Amerika Serikat saja, sekitar 11 juta orang hidup dengan diabetes tanpa menyadarinya, sementara 80 persen dari 115 juta penderita pradiabetes tidak mengetahui kondisi mereka.

"Kita sedang membicarakan epidemi yang, dalam pandangan saya, jauh lebih buruk daripada pandemi Covid," ujar Michael Snyder, profesor genetika di Stanford University. Kerusakan tubuh akibat kadar gula darah tinggi sering kali terakumulasi secara diam-diam selama bertahun-tahun sebelum

Reporter: Benny Surbakti
Sumber: wired.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top