Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) dijadwalkan bertemu petinggi FIFA di Zurich, Swiss, untuk membahas status keikutsertaan mereka di Piala Dunia 2026. Pertemuan krusial ini menyusul polemik visa dan insiden penolakan delegasi Iran saat hendak menghadiri Kongres FIFA di Amerika Utara baru-baru ini.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, telah melayangkan undangan resmi kepada delegasi Iran untuk hadir di markas besar FIFA paling lambat 20 Mei mendatang. Agenda utama pertemuan ini adalah menjamin kepastian "Team Melli" berlaga di turnamen sepak bola terbesar sejagat tersebut tanpa hambatan non-teknis.
Langkah ini diambil hanya tiga minggu sebelum jadwal pemusatan latihan Iran di Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Ketidakpastian muncul setelah munculnya berbagai hambatan administratif dan diplomatik yang membayangi persiapan tim asuhan Mehdi Taj tersebut di tanah Amerika.
Presiden FFIRI, Mehdi Taj, menegaskan pihaknya menuntut penjelasan transparan dari FIFA. Ia menyatakan banyak poin krusial yang harus diselesaikan agar persiapan tim nasional tidak terganggu isu di luar lapangan.
Berdasarkan hasil undian, Iran tergabung di Grup G bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir. Pertandingan fase grup mereka dijadwalkan berlangsung pada 15 hingga 26 Juni 2026 di beberapa kota di Amerika Serikat.
Potensi pertemuan dengan Amerika Serikat di babak gugur menambah tensi geopolitik dalam turnamen ini. Hal tersebut menjadi salah satu poin yang memicu kekhawatiran terkait kelancaran visa dan jaminan keamanan pemain Iran selama berada di wilayah AS.
Hubungan antara federasi dan otoritas sepak bola dunia sempat memanas setelah delegasi Iran gagal menghadiri Kongres FIFA 2026. Mehdi Taj dan dua pejabat FFIRI tertahan saat mendarat di Toronto dalam perjalanan menuju Vancouver.
"Kami memiliki banyak masalah untuk dibahas. Posisi kami adalah bahwa kami akan segera mengadakan pertemuan dengan FIFA," tegas Mehdi Taj.
Taj, yang juga menjabat Wakil Presiden AFC, mengklarifikasi interogasi ketat yang dialaminya terkait latar belakang politik delegasi oleh pihak berwenang Kanada. Ia membantah kabar yang menyebut dirinya dideportasi secara sepihak.
"Di Kanada mereka bertanya kepada kami, 'Apakah Anda anggota Korps Garda Revolusi Islam?' Kami menjawab, 'Di Iran, 90 juta dari kami adalah anggota IRGC,'" ungkap Taj kepada media Iran.
Pertemuan di Zurich nanti akan menjadi penentu apakah Iran tetap bisa menjalankan agenda persiapan mereka di Arizona sesuai rencana awal. FIFA diharapkan mampu memberikan jaminan akses bagi seluruh pemain serta ofisial demi menjaga integritas kompetisi dari intervensi politik negara tuan rumah.
Keputusan resmi FIFA usai pertemuan Mei mendatang bakal menjadi jawaban akhir atas drama panjang yang melibatkan aspek olahraga dan diplomasi internasional ini.