RANTAU — Fahrin Rizali menilai perbedaan pendapat sebagai bagian dari demokrasi yang wajar. Namun ia mengingatkan agar polemik politik nasional tidak melebar menjadi konflik sosial maupun serangan personal antarwarga.
Ajakan itu disampaikan Fahrin dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Tapin. Ia menyoroti dinamika politik nasional yang belakangan ramai membahas ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Minta Keberatan Diselesaikan Lewat Lembaga Berwenang
Fahrin mendorong pihak-pihak yang memiliki keberatan terkait keabsahan dokumen menempuh jalur hukum. Menurutnya, persoalan sebaiknya dinilai berdasarkan fakta dan proses hukum, bukan opini atau informasi yang belum terverifikasi.
"Sebagai pemuda dan selaku Ketua KNPI Tapin, ulun melihat polemik ini harus disikapi secara bijak dan proporsional. Perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi, tetapi jangan sampai berkembang menjadi konflik sosial maupun saling menyerang secara personal," ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan posisi KNPI Tapin yang memilih berdiri di tengah. Organisasi kepemudaan ini tidak ikut menilai substansi polemik, melainkan menyoroti cara warga menyikapinya.
Pemuda Diminta Jadi Penyejuk, Bukan Penyulut
Bagi Fahrin, pemuda memegang peran penting dalam menjaga ruang publik tetap kondusif. Sikap kritis perlu diimbangi tanggung jawab saat menyampaikan pendapat, termasuk kemampuan menyaring informasi sebelum menyebarkannya ke orang lain.
Ia menilai polemik politik nasional bisa menjadi momentum memperkuat literasi digital generasi muda. Kedewasaan berdemokrasi, kata dia, diuji justru saat perbedaan pandangan muncul paling tajam.
"Kritis boleh, berbeda pandangan boleh, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan. Pemuda harus menjadi penyejuk, bukan penyulut," tegas Fahrin.
Harapan untuk Warga Tapin
Fahrin berharap pemuda Tapin terus menjaga persatuan dan ketertiban masyarakat. Suasana aman di tengah dinamika politik nasional, menurutnya, perlu dirawat bersama agar tidak mengganggu kehidupan sehari-hari di kampung dan kelurahan.
Seruan serupa kerap muncul dari organisasi kepemudaan daerah setiap kali isu politik nasional memanas. Posisi KNPI Tapin kali ini menambah suara dari Kalimantan Selatan yang memilih menahan diri dari arus provokasi.