KALIMANTAN SELATAN — Peneliti keamanan siber Yuki Chen resmi bergabung dengan perusahaan AI Z.ai untuk memperkuat pertahanan siber berbasis frontier AI. Peretas etis yang dijuluki "Guhe" itu langsung mengidentifikasi 23 celah keamanan di Microsoft Windows menggunakan model GLM-5.3, dan temuannya telah dikonfirmasi Microsoft.
Z.ai merekrut Chen di tengah meningkatnya ancaman peretasan otomatis yang digerakkan kecerdasan buatan. Kabar kepindahan itu diumumkan sendiri oleh Chen melalui akun media sosialnya, tanpa menyebut tanggal pasti.
"Perjalanan baru, misi baru! Sangat bersemangat dan bersyukur atas kesempatan untuk membantu membangun ruang siber yang lebih aman dengan kekuatan frontier AI," tulis Chen dalam unggahannya.
Chen bukan nama baru di komunitas keamanan siber global. Ia menekuni dunia white-hat hacking lebih dari 15 tahun dan pernah menjabat kepala lembaga riset celah keamanan di Qihoo 360, perusahaan keamanan siber raksasa asal China.
Rekam jejaknya diakui Microsoft. Chen masuk daftar tahunan "Most Valuable Security Researcher" sebanyak lima kali, yakni pada 2019 serta 2021 hingga 2024. Ia juga mengoleksi dua Pwnie Award, penghargaan paling prestisius di dunia peretasan yang kerap disebut "Piala Oscar" bagi para hacker.
Z.ai menyatakan Chen langsung membuktikan kemampuan AI dalam riset keamanan. Memakai model unggulan Z.ai, GLM-5.3, ia berhasil menemukan 23 celah keamanan pada sistem operasi Microsoft Windows.
Temuan tersebut telah diakui dan dikonfirmasi secara resmi oleh Microsoft. Chen beralih menggunakan GLM-5.3 setelah menilai model itu kian lihai menyisir kelemahan sistem digital.
Laporan riset laboratorium AI asal AS, Anthropic, menyebut GLM-5.3 memiliki kemampuan ofensif siber setara model terbarunya, Claude Mythos. Kemampuan itu mencakup pengembangan kode eksploitasi siber secara mandiri atau autonomous end-to-end cyber exploits.
Pemerintah AS bahkan menobatkan GLM-5.3 sebagai model open-weight paling mumpuni untuk ranah keamanan siber saat ini. Penilaian itu memperkuat alasan Z.ai memperkuat tim keamanannya.
Risiko teknologi AI otonom mendorong industri kecerdasan buatan China memperketat standar keamanan. ByteDance, pemilik TikTok, baru saja membentuk divisi khusus AI Safety sebagai langkah serupa.
Di tingkat diplomatik, Amerika Serikat dan China sepakat membuka dialog bilateral khusus mengenai keamanan AI. Kesepakatan itu muncul jelang pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump, demikian dikutip detikINET dari SCMP, Kamis (22/10/2026).
Langkah Z.ai merekrut Chen menandai pergeseran rekrutmen di industri AI China, dari sekadar mengejar kemampuan model ke arah penguatan pertahanan siber. Bagi pengguna dan pelaku bisnis digital di Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa standar keamanan produk AI akan semakin ketat di pasar global.