Pemprov-Polda Kalsel Uji Cairan Sulfaktan di Embung Gambut Banjar, Targetkan Water Bombing Pekan Depan

Penulis: Arif Budiman  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:32:31 WIB
Gubernur Kalsel Muhidin meninjau embung di Hutan Lindung Gambut, Kabupaten Banjar, Senin (19/10/2026).

BANJARBARU — Kawasan ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor menjadi prioritas pengamanan karena posisinya paling dekat dengan titik-titik kebakaran hutan dan lahan yang berulang muncul. Embung yang disiapkan di Hutan Lindung Gambut, Kabupaten Banjar, menjadi lokasi pertama yang akan dicampur cairan sulfaktan.

Gubernur Kalsel Muhidin meninjau langsung embung tersebut, Senin (19/10/2026) sore. Ia menyebut helikopter water bombing sudah diuji di lokasi dan mampu mengambil air pada kedalaman 2 meter.

"Kita membuat (embung) di sini, tadi kita membuat kita coba sudah (ada) helikopter water bombing sini, ternyata sudah kedalaman 2 meter sudah bisa. Tadi kita maunya (ukuran embung) 50 x 25 meter tapi enggak jadi, 20 x 20 meter saja," kata Muhidin.

Mengapa Ukuran Embung Diperkecil dari Rencana Awal

Rencana awal embung berukuran 50 x 25 meter tidak terealisasi. Lokasi yang dipakai adalah lahan milik warga yang sebelumnya dimanfaatkan untuk ketahanan pangan, sehingga penyesuaian ukuran dilakukan agar pembangunan bisa segera rampung.

Muhidin meminta pemilik lahan menggali embung lebih dalam. Permintaan itu disampaikan langsung saat peninjauan, dengan pertimbangan lokasi tersebut paling dekat dengan titik kebakaran yang berulang.

"(Coba) di sini dulu, karena ini paling dekat dengan kejadian-kejadian kebakaran, penyangga bandara," ujarnya.

Cairan Sulfaktan Baru Dipakai Pekan Depan

Setelah berkoordinasi dengan Kapolda Kalsel, Muhidin menyatakan cairan sulfaktan belum bisa langsung digunakan. Pencampuran ke embung kecil di lokasi itu dijadwalkan pekan depan.

Cairan tersebut diklaim mampu mempercepat pemadaman api karhutla. Pemprov dan Polda Kalsel memperluas penggunaannya setelah metode konvensional dinilai lambat di medan gambut.

Gambut Setebal Hampir 3 Meter Jadi Kendala Utama

Pemilik lahan, Waluyo, mengaku sudah lebih dari dua bulan bertahan di lokasi untuk menjaga lahannya dari ancaman karhutla. Kedalaman gambut hampir 3 meter membuat proses pemadaman memakan waktu lama.

"Dua bulan lebih kita sudah di sini, cuma gambut itu kan dalam, hampir 3 meter ya, jadi lumayan agak lama, memerlukan waktunya. Jadi kita coba pakai chemical yang dari Polda, mudah-mudahan kita bisa mempercepat memadamkan api yang ada ini," kata Waluyo.

Ia menyambut permintaan Gubernur untuk memperdalam embung, dengan harapan cairan sulfaktan bisa segera dimasukkan pekan depan.

Kapolda Sebut Lokasi Bisa Jadi Percontohan Provinsi

Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan menjelaskan, embung berada di lokasi yang sebelumnya dipakai untuk ketahanan pangan. Ia merespons inisiatif Gubernur untuk mencampur embung dengan cairan sulfaktan.

"Kalau ini berhasil (dan) efektif untuk pemadaman, tentunya ini akan diperbanyak oleh Bapak Gubernur dan mungkin dijadikan percontohan untuk di Provinsi Kalsel. Iya, project-nya di sini," ujar Rosyanto.

Jika uji coba di Banjar efektif, metode embung berisi sulfaktan akan direplikasi ke titik lain di Kalsel. Kawasan ring 1 Bandara Syamsudin Noor tetap menjadi fokus utama pengamanan karena aktivitas penerbangan bergantung pada jarak pandang yang bersih dari asap.

Reporter: Arif Budiman
Sumber: pojokbanua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top