KALIMANTAN SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,33% ke level 5.863,78 pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Koreksi ini dipicu lonjakan inflasi Amerika Serikat September 2026 ke 3,7% YoY yang memaksa The Fed bersikap hawkish, ditambah eskalasi konflik Timur Tengah. Nilai transaksi hari itu tercatat Rp 13,52 triliun dengan volume 35,2 miliar saham.
Data RTI Business menunjukkan 567 saham melemah, 108 saham menguat, dan 120 saham stagnan. Tekanan jual merata di hampir seluruh sektor seiring bursa global dan mayoritas bursa Asia yang juga terkoreksi pasca-rilis data inflasi AS.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan bursa regional. Menurutnya, angka inflasi AS yang masih jauh dari target The Fed menjadi pemicu utama perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga.
"Koreksi ini (IHSG) juga sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang juga terkoreksi pasca-rilis data inflasi AS September 2026 yang bergerak menguat ke 3,7% YoY, yang masih cukup jauh dari target inflasi The Fed," ucap Herditya kepada detikcom, Kamis (15/10/2026).
Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat Consumer Price Index (CPI) September naik melampaui konsensus menjadi 3,7% YoY, dengan inflasi inti mencapai 2,6%. Angka ini memperkuat posisi dolar AS dan berpotensi menekan rupiah.
Risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang ikut meningkat. Herditya memperkirakan The Fed masih akan menaikkan Fed Fund Rate (FFR) satu kali lagi sebelum akhir 2026, yang akan mendorong yield US Treasury tetap di atas 5%.
"Akan ada kenaikan FFR 1 kali sebelum akhir 2026. Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5% serta akan meningkatkan outflow dari EM," pungkasnya.
Faktor kedua yang menekan IHSG adalah eskalasi konflik Timur Tengah. Ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak dunia.
Ketegangan geopolitik ini memperbesar ketidakpastian pasar global, yang membuat investor cenderung mengurangi eksposur ke aset berisiko termasuk saham negara berkembang.
Di tengah tekanan global, data China menawarkan sedikit angin segar. Surplus dagang Negeri Tirai Bambu pada September mencapai US$ 133,53 miliar, dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% YoY.
Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi permintaan komoditas Indonesia. Meski demikian, dampaknya terhadap IHSG tertahan oleh dominasi sentimen global yang negatif, sehingga tidak mampu menahan laju koreksi indeks.
Kombinasi inflasi AS yang tinggi, sikap hawkish The Fed, dan ketegangan Timur Tengah menciptakan tekanan berlapis bagi pasar saham domestik. Investor perlu mencermati pergerakan yield US Treasury dan nilai tukar rupiah sebagai indikator awal arus modal asing.
Selama yield UST bertahan di atas 5%, risiko outflow dari emerging market seperti Indonesia masih membayangi. Pasar akan menanti data inflasi AS berikutnya dan sinyal lanjutan dari The Fed untuk menentukan arah IHSG dalam beberapa pekan ke depan.