Bos Indosat Sebut AI Bukan Kewajiban, tapi Penentu Daya Saing Kerja

Penulis: Zulham Nasution  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 11:08:31 WIB
Vishal Gupta menyampaikan pandangan soal adopsi AI di dunia kerja dalam peluncuran Indosat Intelligence Suite.

KALIMANTAN SELATAN — Indosat menegaskan penggunaan kecerdasan buatan bukan kewajiban bagi pekerja, melainkan alat untuk melipatgandakan output dalam jam kerja yang sama. Vishal Gupta, Chief TechCo Transformation and Procurement Indosat, menyampaikan pandangan itu di sela peluncuran Indosat Intelligence Suite di Singapura. Ia menilai karyawan yang memanfaatkan AI berpotensi menggantikan mereka yang mengabaikannya.

Vishal Gupta menyampaikan sejumlah pandangannya soal adopsi AI di dunia kerja, termasuk soal produktivitas dan kualitas hasil kerja. Menurutnya, perusahaan maupun pekerja tidak perlu memakai AI hanya karena teknologi itu sedang berkembang pesat.

Penerapan AI, kata dia, semestinya didasarkan pada tujuan yang jelas dan manfaat yang bisa diukur. Ia menekankan bahwa AI berfungsi sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar teknologi yang diadopsi demi mengikuti tren.

AI Bukan Kewajiban, tapi Pengungkit Produktivitas

Dalam sesi peluncuran Indosat Intelligence Suite, Vishal mencontohkan bagaimana AI mengubah cara seseorang bekerja. Pekerja yang biasanya menghasilkan output dalam 10 hingga 12 jam bisa melipatgandakan hasilnya dalam durasi yang sama dengan bantuan perangkat AI.

"Tidak ada yang harus menggunakan AI hanya demi menggunakan AI. AI bukanlah alat atau teknologi yang digunakan hanya demi teknologi itu sendiri. AI adalah alat yang memberdayakan Anda untuk melakukan lebih banyak hal dengan sumber daya yang sama," kata Vishal.

Ia menambahkan, nilai yang diciptakan seorang pekerja bagi perusahaan dalam 12 jam yang sama akan jauh lebih besar jika ia memakai AI dibandingkan bekerja tanpa bantuan teknologi tersebut.

Kualitas Analisis Ikut Meningkat

Selain volume pekerjaan, AI disebut mampu memperbaiki kualitas hasil kerja. Vishal menyebut teknologi ini memungkinkan pekerja melakukan analisis yang jauh lebih mendalam dibandingkan hanya mengandalkan kemampuan sendiri.

"Tentu saja, kualitas hasilnya juga meningkat. Anda bisa melakukan analisis yang jauh lebih banyak dengan AI dibandingkan tanpa AI. Jadi, AI meningkatkan kualitas dan meningkatkan hasil kerja setiap manusia," ujarnya.

Meski begitu, ia menegaskan penggunaan AI tetap bukan kewajiban. Yang lebih penting, menurut dia, adalah memahami tujuan penggunaannya dan memastikan teknologi tersebut memberi manfaat nyata bagi pekerja maupun bisnis.

"Apakah Anda harus menggunakan AI? Jawabannya tidak. Apakah AI membantu Anda? Jawabannya ya. Namun, tujuan penggunaan AI harus ditentukan, dan hal ini sekarang sudah dipahami dengan jelas," tutur Vishal.

Persaingan Kerja di Era AI

Vishal menyoroti pergeseran persaingan di dunia kerja yang semakin dipengaruhi AI. Bukan AI yang akan menggantikan manusia, melainkan pekerja yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut yang berpotensi menggantikan mereka yang tidak menggunakannya.

"AI tidak akan menggantikan manusia. Manusia yang menggunakan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI. Sebab, saya akan menjadi lebih efektif jika menggunakan AI," tegasnya.

Ia menilai perusahaan berpotensi memperoleh manfaat dari AI apabila mulai menerapkannya sesuai kebutuhan bisnis, bukan sekadar mengikuti arus teknologi.

Pandangan ini muncul di tengah gelaran peluncuran Indosat Intelligence Suite, lini layanan AI yang menyasar kebutuhan transformasi digital perusahaan. Peluncuran tersebut menandai langkah Indosat memperluas portofolio layanan enterprise di pasar Indonesia, sejalan dengan meningkatnya adopsi AI generatif di kalangan pelaku bisnis digital.

Reporter: Zulham Nasution
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top